Suatu sore di akhir bulan Mei yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang “kera Ngalam”. Kami dalam perjalanan pulang ke tempat tinggal & karena masih bisa searah untuk beberapa menit, kami pun sempat mengobrol ringan sembari melajukan kendaraan kami masing-masing.
“Sudah punya pasangan?”
Saya tersenyum, antara geli & terharu (tak usah dibayangkan, pasti cuma bikin pusing, he-he-he…). Untuk kedua kalinya dia menanyakan hal yang sama ~kali pertama adalah ketika kami bertemu di pernikahan kakaknya awal Maret yang lalu.
“Memangnya kamu mau mencarikan?”
Sungguh… walaupun saya mengucapkan itu dengan nada bercanda, tapi saya tidak sedang main-main.
Dia terdiam untuk sejenak…
“Aku nggak berani, mending Mbak cari sendiri saja, biar lebih…”
Akhir kalimatnya menggantung, tapi saya sudah paham maksudnya.
Memang, banyak lajang masa kini yang lebih suka mencari sendiri (calon) pasangan hidupnya tanpa campur tangan pihak ketiga, keempat, kelima, dst. Alasannya, biar benar-benar sesuai ~setidaknya mendekati~ dengan kriteria yang diinginkan. Mungkin juga ada kepuasan batin tersendiri dari “perjuangan tunggal” tersebut.
Namun, bagi saya, mau dicarikan atau mencari sendiri tidak ada bedanya. Keduanya, pada akhirnya, tetap akan melewati proses penjajakan (entah itu dalam waktu singkat atau lama, & apa pun caranya). Keduanya juga sama-sama bernilai ikhtiar, & yang pasti, keputusan akhir dari keduanya ada di tangan Tuhan…
Komentar Terakhir