Dicarikan atau Mencari Sendiri?

2 06 2008

Suatu sore di akhir bulan Mei yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang “kera Ngalam”. Kami dalam perjalanan pulang ke tempat tinggal & karena masih bisa searah untuk beberapa menit, kami pun sempat mengobrol ringan sembari melajukan kendaraan kami masing-masing.

“Sudah punya pasangan?”

Saya tersenyum, antara geli & terharu (tak usah dibayangkan, pasti cuma bikin pusing, he-he-he…). Untuk kedua kalinya dia menanyakan hal yang sama ~kali pertama adalah ketika kami bertemu di pernikahan kakaknya awal Maret yang lalu.

“Memangnya kamu mau mencarikan?”

Sungguh… walaupun saya mengucapkan itu dengan nada bercanda, tapi saya tidak sedang main-main.

Dia terdiam untuk sejenak…

“Aku nggak berani, mending Mbak cari sendiri saja, biar lebih…”

Akhir kalimatnya menggantung, tapi saya sudah paham maksudnya.

Memang, banyak lajang masa kini yang lebih suka mencari sendiri (calon) pasangan hidupnya tanpa campur tangan pihak ketiga, keempat, kelima, dst. Alasannya, biar benar-benar sesuai ~setidaknya mendekati~ dengan kriteria yang diinginkan. Mungkin juga ada kepuasan batin tersendiri dari “perjuangan tunggal” tersebut.

Namun, bagi saya, mau dicarikan atau mencari sendiri tidak ada bedanya. Keduanya, pada akhirnya, tetap akan melewati proses penjajakan (entah itu dalam waktu singkat atau lama, & apa pun caranya). Keduanya juga sama-sama bernilai ikhtiar, & yang pasti, keputusan akhir dari keduanya ada di tangan Tuhan… :)





Hari Susu Sedunia

1 06 2008

Gara-gara lihat ~dan baca~ iklan salah satu produsen susu cair terkemuka Indonesia di KOMPAS Minggu (01/06/2008), saya baru “ngeh” bahwa ternyata ada yang namanya Hari Susu Sedunia (World Milk Day)! Awalnya saya geli, kok ada-ada saja ya… Namun saya pikir-pikir lagi (plus setelah korek info sana-sini tentang hal itu dengan bantuan Cak Gugel), tidak ada salahnya juga sih, karena sampai saat ini masih banyak yang belum sepenuhnya paham akan pentingnya susu bagi tubuh & bagi semua golongan usia.
Hmm… benar-benar momentum yang pas, karena sehari sebelumnya adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dua hari berturutan yang didekasikan untuk kesehatan, & tentang dua hal yang paling terabaikan di Indonesia…
:P





Allo!

20 05 2008

Lagi-lagi, sekedar nongol sebentar biar para fans nggak penasaran, he-he-he…





Bintang Kecil, di Langit yang Biru atau Tinggi?

21 03 2008

Lagu Bintang Kecil, siapa yang tak kenal? Boleh dibilang lagu tersebut adalah salah satu lagu kanak-kanak sepanjang masa. Melodinya tidak rumit, liriknya pun sederhana tapi kaya makna.
Bicara soal lirik lagu Bintang Kecil, kadang-kadang saya bingung dibuatnya. Sedari saya masih belum fasih baca-tulis, baris pertama lagu tersebut yang tertanam dalam benak saya adalah “bintang kecil di langit yang tinggi”. Namun ketika ada orang lain menyanyikan lagu yang sama, yang saya dengar adalah “bintang kecil di langit yang biru”.

Jadi, mana yang benar?





Sekedar Nongol

15 03 2008

Apa kabar, dunia?
Sekitar tiga bulan saya menjalani hibernasi kepenulisan (wah… istilah apa lagi ini?), akhirnya saya memutuskan untuk muncul lagi. Yah… sebenarnya sih, sekedar untuk memupuskan rasa kangen para penggemar saya (halah…) yang protes karena saya “terlalu lama semedi”, hehehe..
Jadi, dengan segala maaf, untuk kali ini & hingga saat ini pun saya belum bisa memberikan hidangan yang nikmat buat para pembaca gedhongwolu tersayang, seperti sediakala. Saya masih menunggu kembalinya “passion” itu (ternyata menulis pun perlu “passion” ya, walau kita sudah merasakan itu sebagai suatu kebutuhan…)… Adakah yang bisa menjemputnya untuk saya? :)





Happy Anniversary!

23 12 2007
Sekitar tiga tahun yang lalu, saya mulai mengenal yang namanya blog. Kejadiannya bisa dibilang agak absurd, yaitu gara-gara “keisengan” saya memasukkan nama teman-teman baru saya di S2 dalam kotak pencarian Mpu Gugel. Singkat cerita, terlacaklah sebuah blog milik seorang teman lulusan Planologi Universitas Brawijaya. Hmm… kayaknya asyik nih, punya blog, begitu pikir saya sembari menjelajah isi blog teman saya itu. Tak buang waktu lagi, saya pun merilis blog pertama saya.
Lho, jadi gedhongwolu ini blog yang keberapa?
Nanti dulu, dongengnya belum selesai…
Kurang dari dua tahun berikutnya, saya menemukan blog milik seorang kenalan yang, meminjam istilah seorang sahabat, “ndalang” di Teknik Industri UGM. Tampilan atraktif blog yang beralamat di Wp itu membuat saya tergoda untuk menelusuri lebih jauh perihal Wp. Dasarnya saya sudah mulai bosan dengan blog yang lama, saya pun utak-atik untuk bikin blog di sini, & jadilah… Entah kebetulan atau bukan, rilis blog yang kemudian saya namai gedhongwolu tersebut juga terjadi pada bulan Desember!
Demikianlah, ternyata saya betah bernaung di Wp, bahkan kemudian sukses menghasut beberapa teman untuk mengikuti jejak saya, he-he-he… (malah mereka yang sekarang justru lebih produktif menghasilkan tulisan daripada saya!) Lalu bagaimana nasib blog yang lama? Mengutip lagu Krisdayanti, I’m sorry good bye… :D
Satu hal lagi, walaupun rajin mengecek blog hits tiap kali masuk ke dalam wilayah pribadi saya di Wp, saya tak pernah ambil pusing dengan angka-angka yang tertera di sana ~yang konon merupakan salah satu indikator kesuksesan suatu blog. Mau banyak atau sedikit yang mengunjungi gedhongwolu & membaca tulisan-tulisan di dalamnya, saya tak peduli; toh… tiap hari ada saja yang mampir, entah karena memang niat untuk menengok atau karena “nyasar”, he-he-he… Lagipula saya ngeblog ini, kan, benar-benar sekedar untuk senang-senang sembari sedikit narsis! :P




Tiga Puluh Enam Derajat Celcius

29 11 2007

Ya… 36°C, itulah karakter-karakter yang diperlihatkan oleh jam merangkap termometer digital di swalayan Mirota Kampus, Yogyakarta, yang kulewati siang ini. Sebenarnya suhu udara sepanas itu bukan hal baru di Kota Gudeg, tapi tetap saja membuatku tak habis pikir, kok bisa ya… :-S
Sambil mengayuh pedal sepedaku (plus setengah melet-melet karena kepanasan) , aku menggumam sendiri, ah ya… wajar sajalah kalau panasnya Yogyakarta makin nggilani. Lahan yang cuma seluas 3.250 hektar itu kian penuh dengan bangunan & kendaraan bermotor produsen asap tanpa diimbangi jumlah vegetasi yang memadai. Belum lagi, pada dasarnya Yogyakarta tergolong kota berhawa panas-menyengat. Lengkap sudah penderitaan manusia yang berada di sana…





Spesialis yang Generalis

17 11 2007

Salah seorang dosenku di S1 pernah bercerita bahwa beliau senang belajar berbagai macam ilmu. Titel yang beriring di depan & belakang nama beliau pun seolah menjadi bukti: insinyur (teknik nuklir) & magister kesehatan. “Walau tahu cuma kulit-kulitnya tapi itu sudah cukup bagi saya untuk bisa selalu ‘nyambung’ dengan orang yang bicara dengan saya, apa pun latar belakang keilmuannya atau profesinya,” begitu kurang lebih tuturan beliau yang terekam dalam benakku sampai saat ini. Secara tersirat, ada pesan agar kami ~para mahasiswa yang mengikuti kuliah beliau~ berwawasan luas & tidak menjadi katak dalam tempurung: pandai berkicau soal ilmu “kekuasaan” kami, tapi mendadak gagap atau bahkan menggelengkan kepala tanda menyerah ketika diajak berbicara mengenai hal di luar itu. Salah satu kodrat manusia adalah sebagai makhluk sosial, & salah satu modal untuk “memenuhi” kodrat tersebut, ya itu tadi… dengan belajar banyak hal di samping memperkuat keahlian utamanya.
Faktanya, banyak sekali di antara kita adalah si katak dalam tempurung, entah itu kita sadari atau tidak. Kita lebih suka menjadi spesialis saja. Padahal tidaklah sulit untuk sekaligus menjadi generalis, apalagi di zaman sekarang, banyak nian sarana yang dapat dimanfaatkan. Mau buku, koran, majalah, TV, atau internet, kita tinggal pilih, kalau perlu raup saja semuanya. Model penyajian atau pemaparan hal/ilmu/pengetahuan yang dianggap “berat” seperti fisika juga makin bersahabat & dengan bahasa yang mudah dicerna awam. Persoalannya, kita cenderung memanjakan kemalasan kita. Baca koran misalnya, hanya berita atau artikel yang sesuai dengan keahlian kita, paling banter yang sesuai minat atau hobi (padahal sayang ‘kan, keluar duit tak sedikit tapi yang dibaca cuma se”iprit”… :D ).
Sepanjang tak mengesankan sok tahu, tak ada salahnya & tak ada ruginya jika kita menjadi spesialis yang generalis. Memang menjadi spesialis tak serta-merta membuat kita terkucil dari pergaulan. Namun “kegeneralisan” akan membuat perbincangan dengan berbagai kalangan menjadi tak kering ~hanya sebatas persoalan sehari-hari. Lebih jauh, “mengadopsi” salah satu butir teori evolusi Darwin, menjadi generalis bukan tak mungkin dapat membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan.
Nah, masihkah kita cukup puas hanya dengan setetes air bila sebenarnya kita bisa meraih segayung, seember, atau bahkan sekolam?





“Yang, hujan turun lagi…”

7 11 2007

Perhatian: judul artikel ini ~yang mengutip lirik salah satu lagu melankolis (kalau tak mau disebut lagu cengeng atau lagu ngak-ngik-ngok :D ) produksi abad silam~ memang sengaja dibikin “maksa” untuk nyambung dengan isinya.
———-
Rasanya baru kemarin musim hujan usai, tahu-tahu hujan sudah menyambangi bumi lagi secara rutin, padahal pohon mangga sedang giat-giatnya berbuah. Memang, ditinjau dari segi kalender, wajar kalau sudah masuk musim hujan, tapi tetap saja ada semacam keinginan untuk “mengutuk” pemanasan global penyebab kian kacaunya pola musim.
Hujan layak disambut dengan gembira karena tangkapan-tangkapan air jadi terisi lagi. Selang air untuk sementara bisa diistirahatkan dari tugas memberi minum tanaman. Peluh yang keluar ketika kita menyapu lantai juga dapat tereduksi karena lantai tidak lagi cepat berdebu.
Namun hujan juga patut untuk diapresiasi secara negatif. Salah satunya, ya, bersangkutan dengan pohon mangga yang tengah berbuah itu… Hujan bisa menggagalkan panen yang sudah ada di depan mata karena produksi mangga tak selaras dengan karakter musim hujan. Belum lagi yang menyangkut urusan jemuran pakaian, musti melewati waktu yang lebih panjang lagi untuk mencapai kekeringan sempurna & harus siap dengan “ancaman” bau apek.
Jadi, mari kita bersiap menyambut kembalinya musim basah. Tentu saja siap yang sebenar-benarnya, bukan siap asal siap. Namun juga bukan berarti siap untuk kebanjiran lagi, lho…





Masalah nan Tak Kunjung Silam

31 10 2007

 

 

 

 

Musim mudik Idul Fitri 1428 H telah berlalu. Namun, sebagaimana musim-musim mudik sebelumnya, tersisa satu persoalan yang seolah tak berujung: kemacetan!
Ibarat penyakit, kemacetan musim mudik ala Indonesia bisa dikatakan kronis. Bagaimana tidak, tempat-tempat terjadinya kemacetan tersebut sejak era ‘80-an, ya… di situ-situ saja, bahkan ada kecenderungan untuk merambah tempat lain tiap tahunnya!
Kita boleh saja menyebut pasar tumpah, jalan yang rusak, jalan menyempit (bottle neck), atau jumlah kendaraan yang tak sepadan dengan volume jalan sebagai biang keladi kemacetan. Lalu, aparat yang berwenang pun mencoba untuk mengatasinya dengan ~di antaranya~ perbaikan jalan yang rusak, memperlebar/memperluas badan jalan, & penyediaan jalur-jalur alternatif.
Namun, itu semua akan terus menjadi retorika belaka sepanjang tak ada perbaikan perilaku para pengemudi kendaraan. Jika semua pengemudi bisa bersikap sabar & tertib, maka sepadat apa pun volume kendaraan di jalan, paling apes hanya akan timbul kondisi “padat setengah merayap”. Sebaliknya, tanpa kesabaran & ketertiban ~seperti yang selama ini kerap terjadi, jalan selebar apa pun takkan pernah cukup untuk tidak menimbulkan kemacetan.
Kuncinya sebenarnya sederhana: pengendalian ego untuk cepat sampai di tujuan. Hanya saja, sederhana memang tidak selalu identik dengan mudah. Celakanya lagi, hal yang sederhana adalah hal yang seringkali terlupakan, baik itu untuk diingat maupun dipelajari!
Nah, kita lihat saja musim mudik berikutnya. Jika penyakit yang sama masih juga bersarang dengan stadium yang setara, berarti benar bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tak pernah mau belajar…