Happy Anniversary!

23 12 2007
Sekitar tiga tahun yang lalu, saya mulai mengenal yang namanya blog. Kejadiannya bisa dibilang agak absurd, yaitu gara-gara “keisengan” saya memasukkan nama teman-teman baru saya di S2 dalam kotak pencarian Mpu Gugel. Singkat cerita, terlacaklah sebuah blog milik seorang teman lulusan Planologi Universitas Brawijaya. Hmm… kayaknya asyik nih, punya blog, begitu pikir saya sembari menjelajah isi blog teman saya itu. Tak buang waktu lagi, saya pun merilis blog pertama saya.
Lho, jadi gedhongwolu ini blog yang keberapa?
Nanti dulu, dongengnya belum selesai…
Kurang dari dua tahun berikutnya, saya menemukan blog milik seorang kenalan yang, meminjam istilah seorang sahabat, “ndalang” di Teknik Industri UGM. Tampilan atraktif blog yang beralamat di Wp itu membuat saya tergoda untuk menelusuri lebih jauh perihal Wp. Dasarnya saya sudah mulai bosan dengan blog yang lama, saya pun utak-atik untuk bikin blog di sini, & jadilah… Entah kebetulan atau bukan, rilis blog yang kemudian saya namai gedhongwolu tersebut juga terjadi pada bulan Desember!
Demikianlah, ternyata saya betah bernaung di Wp, bahkan kemudian sukses menghasut beberapa teman untuk mengikuti jejak saya, he-he-he… (malah mereka yang sekarang justru lebih produktif menghasilkan tulisan daripada saya!) Lalu bagaimana nasib blog yang lama? Mengutip lagu Krisdayanti, I’m sorry good bye… :D
Satu hal lagi, walaupun rajin mengecek blog hits tiap kali masuk ke dalam wilayah pribadi saya di Wp, saya tak pernah ambil pusing dengan angka-angka yang tertera di sana ~yang konon merupakan salah satu indikator kesuksesan suatu blog. Mau banyak atau sedikit yang mengunjungi gedhongwolu & membaca tulisan-tulisan di dalamnya, saya tak peduli; toh… tiap hari ada saja yang mampir, entah karena memang niat untuk menengok atau karena “nyasar”, he-he-he… Lagipula saya ngeblog ini, kan, benar-benar sekedar untuk senang-senang sembari sedikit narsis! :P




Tiga Puluh Enam Derajat Celcius

29 11 2007

Ya… 36°C, itulah karakter-karakter yang diperlihatkan oleh jam merangkap termometer digital di swalayan Mirota Kampus, Yogyakarta, yang kulewati siang ini. Sebenarnya suhu udara sepanas itu bukan hal baru di Kota Gudeg, tapi tetap saja membuatku tak habis pikir, kok bisa ya… :-S
Sambil mengayuh pedal sepedaku (plus setengah melet-melet karena kepanasan) , aku menggumam sendiri, ah ya… wajar sajalah kalau panasnya Yogyakarta makin nggilani. Lahan yang cuma seluas 3.250 hektar itu kian penuh dengan bangunan & kendaraan bermotor produsen asap tanpa diimbangi jumlah vegetasi yang memadai. Belum lagi, pada dasarnya Yogyakarta tergolong kota berhawa panas-menyengat. Lengkap sudah penderitaan manusia yang berada di sana…





Spesialis yang Generalis

17 11 2007

Salah seorang dosenku di S1 pernah bercerita bahwa beliau senang belajar berbagai macam ilmu. Titel yang beriring di depan & belakang nama beliau pun seolah menjadi bukti: insinyur (teknik nuklir) & magister kesehatan. “Walau tahu cuma kulit-kulitnya tapi itu sudah cukup bagi saya untuk bisa selalu ‘nyambung’ dengan orang yang bicara dengan saya, apa pun latar belakang keilmuannya atau profesinya,” begitu kurang lebih tuturan beliau yang terekam dalam benakku sampai saat ini. Secara tersirat, ada pesan agar kami ~para mahasiswa yang mengikuti kuliah beliau~ berwawasan luas & tidak menjadi katak dalam tempurung: pandai berkicau soal ilmu “kekuasaan” kami, tapi mendadak gagap atau bahkan menggelengkan kepala tanda menyerah ketika diajak berbicara mengenai hal di luar itu. Salah satu kodrat manusia adalah sebagai makhluk sosial, & salah satu modal untuk “memenuhi” kodrat tersebut, ya itu tadi… dengan belajar banyak hal di samping memperkuat keahlian utamanya.
Faktanya, banyak sekali di antara kita adalah si katak dalam tempurung, entah itu kita sadari atau tidak. Kita lebih suka menjadi spesialis saja. Padahal tidaklah sulit untuk sekaligus menjadi generalis, apalagi di zaman sekarang, banyak nian sarana yang dapat dimanfaatkan. Mau buku, koran, majalah, TV, atau internet, kita tinggal pilih, kalau perlu raup saja semuanya. Model penyajian atau pemaparan hal/ilmu/pengetahuan yang dianggap “berat” seperti fisika juga makin bersahabat & dengan bahasa yang mudah dicerna awam. Persoalannya, kita cenderung memanjakan kemalasan kita. Baca koran misalnya, hanya berita atau artikel yang sesuai dengan keahlian kita, paling banter yang sesuai minat atau hobi (padahal sayang ‘kan, keluar duit tak sedikit tapi yang dibaca cuma se”iprit”… :D ).
Sepanjang tak mengesankan sok tahu, tak ada salahnya & tak ada ruginya jika kita menjadi spesialis yang generalis. Memang menjadi spesialis tak serta-merta membuat kita terkucil dari pergaulan. Namun “kegeneralisan” akan membuat perbincangan dengan berbagai kalangan menjadi tak kering ~hanya sebatas persoalan sehari-hari. Lebih jauh, “mengadopsi” salah satu butir teori evolusi Darwin, menjadi generalis bukan tak mungkin dapat membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan.
Nah, masihkah kita cukup puas hanya dengan setetes air bila sebenarnya kita bisa meraih segayung, seember, atau bahkan sekolam?





“Yang, hujan turun lagi…”

7 11 2007

Perhatian: judul artikel ini ~yang mengutip lirik salah satu lagu melankolis (kalau tak mau disebut lagu cengeng atau lagu ngak-ngik-ngok :D ) produksi abad silam~ memang sengaja dibikin “maksa” untuk nyambung dengan isinya.
———-
Rasanya baru kemarin musim hujan usai, tahu-tahu hujan sudah menyambangi bumi lagi secara rutin, padahal pohon mangga sedang giat-giatnya berbuah. Memang, ditinjau dari segi kalender, wajar kalau sudah masuk musim hujan, tapi tetap saja ada semacam keinginan untuk “mengutuk” pemanasan global penyebab kian kacaunya pola musim.
Hujan layak disambut dengan gembira karena tangkapan-tangkapan air jadi terisi lagi. Selang air untuk sementara bisa diistirahatkan dari tugas memberi minum tanaman. Peluh yang keluar ketika kita menyapu lantai juga dapat tereduksi karena lantai tidak lagi cepat berdebu.
Namun hujan juga patut untuk diapresiasi secara negatif. Salah satunya, ya, bersangkutan dengan pohon mangga yang tengah berbuah itu… Hujan bisa menggagalkan panen yang sudah ada di depan mata karena produksi mangga tak selaras dengan karakter musim hujan. Belum lagi yang menyangkut urusan jemuran pakaian, musti melewati waktu yang lebih panjang lagi untuk mencapai kekeringan sempurna & harus siap dengan “ancaman” bau apek.
Jadi, mari kita bersiap menyambut kembalinya musim basah. Tentu saja siap yang sebenar-benarnya, bukan siap asal siap. Namun juga bukan berarti siap untuk kebanjiran lagi, lho…





Masalah nan Tak Kunjung Silam

31 10 2007

 

 

 

 

Musim mudik Idul Fitri 1428 H telah berlalu. Namun, sebagaimana musim-musim mudik sebelumnya, tersisa satu persoalan yang seolah tak berujung: kemacetan!
Ibarat penyakit, kemacetan musim mudik ala Indonesia bisa dikatakan kronis. Bagaimana tidak, tempat-tempat terjadinya kemacetan tersebut sejak era ‘80-an, ya… di situ-situ saja, bahkan ada kecenderungan untuk merambah tempat lain tiap tahunnya!
Kita boleh saja menyebut pasar tumpah, jalan yang rusak, jalan menyempit (bottle neck), atau jumlah kendaraan yang tak sepadan dengan volume jalan sebagai biang keladi kemacetan. Lalu, aparat yang berwenang pun mencoba untuk mengatasinya dengan ~di antaranya~ perbaikan jalan yang rusak, memperlebar/memperluas badan jalan, & penyediaan jalur-jalur alternatif.
Namun, itu semua akan terus menjadi retorika belaka sepanjang tak ada perbaikan perilaku para pengemudi kendaraan. Jika semua pengemudi bisa bersikap sabar & tertib, maka sepadat apa pun volume kendaraan di jalan, paling apes hanya akan timbul kondisi “padat setengah merayap”. Sebaliknya, tanpa kesabaran & ketertiban ~seperti yang selama ini kerap terjadi, jalan selebar apa pun takkan pernah cukup untuk tidak menimbulkan kemacetan.
Kuncinya sebenarnya sederhana: pengendalian ego untuk cepat sampai di tujuan. Hanya saja, sederhana memang tidak selalu identik dengan mudah. Celakanya lagi, hal yang sederhana adalah hal yang seringkali terlupakan, baik itu untuk diingat maupun dipelajari!
Nah, kita lihat saja musim mudik berikutnya. Jika penyakit yang sama masih juga bersarang dengan stadium yang setara, berarti benar bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tak pernah mau belajar…





Libur Panjang

3 10 2007

Akhirnya, Pemerintah menetapkan bahwa libur (cuti bersama) Idul Fitri 1428 H yang semula cuma sampai tgl 16 Oktober diperpanjang hingga tgl 19 Oktober; dengan kata lain baru masuk kerja/sekolah lagi pada tgl 22 Oktober. Huehehe… puas-puasin tuh… keterlaluan kalau sampai masih kurang juga! :D
Cuma, bagaimana ya, nasib bayar-bayaran rekening? Telepon sih, nggak masyalaaa… bisa dituntaskan sebelum tgl 11. Lha kalau listrik, yang kebagian periode pembayaran tgl 12-20, dikasih dispensasi enggak ya? Ataukah loket SOPP-nya termasuk salah satu yang dapat perkecualian libur lebaran? Kalau bisa bayar lewat ATM sih, pas de problème yach… :D





Bulan Kedelapan

1 10 2007

Sudah bulan Oktober, ya… Saatnya perayaan buat yang punya nama mengandung kata berawalan “Okt-” atau “Oct-”, he-he-he…
Mmm… pasti pada heran ‘kan, kenapa judulnya “Bulan Kedelapan” padahal Oktober tercatat sebagai bulan kesepuluh dalam penanggalan Masehi? Alasannya: coba telusuri lagi sejarahnya! :D
Kalau mau yang lebih gampang sedikit, mari kita telusuri akar katanya. Oktober atau October terbentuk salah satunya atas kata “okta(v)” yang artinya adalah delapan (ingat nggak dengan “deretan” ini: penta, hepta, heksa, okta?). Aslinya pada tempoh doeloe banget, Oktober memang bulan kedelapan jek… :)





Bebas Pagar! :D

21 09 2007

September tahun ini rupanya benar-benar jadi September Ceria bagiku. Pasalnya setelah sekitar 3,5 tahun menjalani perawatan ortodonsi, semalam gigiku dibebaskan dari si behel yang tentu saja tidak murah itu. :D Akhirnya…
Sebenarnya sih, masih belum sepenuhnya bebas karena dalam beberapa hari ke depan masih ada satu “ritual” lagi yang harus kulakoni: pasang retainer alias kawat gigi lepasan. Entah untuk berapa lama (lagi) gigiku harus berpagar, tapi setidaknya sudah tak ada lagi tempelan tetap di situ. :D





Hari Untarto

11 09 2007

 

Sewaktu masih kost belasan tahun yang lalu, radio adalah salah satu teman setiaku untuk membunuh waktu. Jamaknya, semua stasiun radio punya segmen acara yang gampangnya kita sebut saja “request & kirim salam”. Nah, di Jogja nih… walaupun jumlah pendengar yang berpartisipasi cukup banyak & tak jarang di antara partisipan tersebut “setor suara” hampir tiap hari, tapi ada satu nama yang sangat mengemuka: Hari Untarto! Mas yang satu ini rajin banget sapa sana-sini-situ-sono via berbagai stasiun radio di Kota Gudeg. Saking rajinnya, sampai-sampai sebuah surat kabar harian lokal tertarik untuk memuat profilnya. Bolehlah kalau dia dinobatkan sebagai salah satu sosialitanya Jogja, he-he-he…
Setelah tinggal di rumah sendiri sejak sekitar 9 tahun yang lalu, kegiatanku mendengarkan siaran radio relatif hanya sekedarnya. Dari yang sekedarnya itu pun, aku tak pernah mendapati nama Hari Untarto disebut oleh si penyiar. Tak dinyana tak diduga, pada suatu malam di bulan ini, nama itu mampir lagi di kupingku! Kalau dulu “Hari Untarto di Biologi UGM”, sekarang “Hari Untarto di S2 Farmasi”. Bener-bener dah, kagak adé matinyé mas yang satu ini… :D
Aku teringat masa kecilku, hampir tiap pagi saat siap-siap berangkat ke sekolah, dalam siaran RRI Surabaya aku mendengarkan nama-nama seperti Dewi Mukasona & Uun Undarti disebut oleh si penyiar acara “request & kirim salam”. Jadi, “fenomena Hari Untarto” sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, malah mungkin sejak awal berdirinya RRI pun sudah ada. Namun tetap saja itu merupakan hal yang menakjubkan & menjadi sensasi tersendiri… :D





September Ceria

2 09 2007

September Ceria, itu jelas judul lagu yang dibawakan oleh Vina Panduwinata alias Mama Ina. Heheh… lagi kepengin aja nih, nulis dua kata itu. Mentang-mentang bulan September ‘kali ya… :D
Kalo mau “diungkit-ungkit” lagi sih, lagu September Ceria memang punya kenangan tersendiri buatku. Lagu itu adalah salah satu lagu yang dibawakan dalam Konser Tiga PSM UGM thn 1995, konser pertamaku sebagai anggota PSM UGM. Sampai sekarang, bagiku konser tersebut merupakan salah satu konser tersukses sepanjang sejarah penyelenggaraan konser PSM UGM. Penyanyinya saja “sak ndhayak” bo… :D
Yah… semoga saja bulan September kali ini (& seterusnya) benar-benar membawa keceriaan bagiku khususnya, & bagi semua makhluk-Nya pada umumnya, âmîn… :)