Salah seorang dosenku di S1 pernah bercerita bahwa beliau senang belajar berbagai macam ilmu. Titel yang beriring di depan & belakang nama beliau pun seolah menjadi bukti: insinyur (teknik nuklir) & magister kesehatan. “Walau tahu cuma kulit-kulitnya tapi itu sudah cukup bagi saya untuk bisa selalu ‘nyambung’ dengan orang yang bicara dengan saya, apa pun latar belakang keilmuannya atau profesinya,” begitu kurang lebih tuturan beliau yang terekam dalam benakku sampai saat ini. Secara tersirat, ada pesan agar kami ~para mahasiswa yang mengikuti kuliah beliau~ berwawasan luas & tidak menjadi katak dalam tempurung: pandai berkicau soal ilmu “kekuasaan” kami, tapi mendadak gagap atau bahkan menggelengkan kepala tanda menyerah ketika diajak berbicara mengenai hal di luar itu. Salah satu kodrat manusia adalah sebagai makhluk sosial, & salah satu modal untuk “memenuhi” kodrat tersebut, ya itu tadi… dengan belajar banyak hal di samping memperkuat keahlian utamanya.
Faktanya, banyak sekali di antara kita adalah si katak dalam tempurung, entah itu kita sadari atau tidak. Kita lebih suka menjadi spesialis saja. Padahal tidaklah sulit untuk sekaligus menjadi generalis, apalagi di zaman sekarang, banyak nian sarana yang dapat dimanfaatkan. Mau buku, koran, majalah, TV, atau internet, kita tinggal pilih, kalau perlu raup saja semuanya. Model penyajian atau pemaparan hal/ilmu/pengetahuan yang dianggap “berat” seperti fisika juga makin bersahabat & dengan bahasa yang mudah dicerna awam. Persoalannya, kita cenderung memanjakan kemalasan kita. Baca koran misalnya, hanya berita atau artikel yang sesuai dengan keahlian kita, paling banter yang sesuai minat atau hobi (padahal sayang ‘kan, keluar duit tak sedikit tapi yang dibaca cuma se”iprit”…
).
Sepanjang tak mengesankan sok tahu, tak ada salahnya & tak ada ruginya jika kita menjadi spesialis yang generalis. Memang menjadi spesialis tak serta-merta membuat kita terkucil dari pergaulan. Namun “kegeneralisan” akan membuat perbincangan dengan berbagai kalangan menjadi tak kering ~hanya sebatas persoalan sehari-hari. Lebih jauh, “mengadopsi” salah satu butir teori evolusi Darwin, menjadi generalis bukan tak mungkin dapat membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi berbagai macam tantangan kehidupan.
Nah, masihkah kita cukup puas hanya dengan setetes air bila sebenarnya kita bisa meraih segayung, seember, atau bahkan sekolam?
Komentar Terakhir