Dua setengah bulan… Rentang waktu yang bisa dianggap lama, tapi bisa juga dianggap singkat, tergantung konteksnya. Dua setengah bulan itu juga, saya cuma mondar-mandir alias jadi peselancar pasif di jagat per-blog-an. Ehm… tidak pasif juga sebenarnya, karena saya masih sempat “nyampah” di sana-sini.
Mengapa saya tak kunjung meluncurkan tulisan terbaru? Ah… saya sendiri kadang-kadang bingung. Begitu banyak ide untuk tulisan yang berkeliaran di benak saya, tapi belum satu pun yang mewujud menjadi tulisan utuh. Seperti ada barier yang menghalangi saya untuk menuntaskan ide-ide tersebut (mungkin karena saya masih punya banyak “hutang”?
) Boleh jadi, ini juga salah satu bentuk kekonsistenan saya. Kekonsistenan untuk tidak konsisten, maksud saya.
Yah, semoga saja setelah (tulisan) ini saya bisa mulai konsisten dalam arti yang sesungguhnya. Soalnya tersiksa juga sih, bejibun ide lalu-lalang dalam pikiran tapi tak segera dieksekusi. Ibarat kepingin pipis yang sudah teramat sangat tapi tidak bisa segera menemukan toilet, bisa-bisa menjadi batu yang membahayakan kesehatan…
Oh ya, harap maklum juga kalau nantinya tulisan-tulisan saya selanjutnya mungkin ada yang agak basi, basi, atau bahkan basi banget. Itu berarti saya merasa tulisan tersebut masih layak untuk ditampilkan karena ada perspektif lain yang saya angkat dari topiknya (& mudah-mudahan belum ada penulis lain yang mengulasnya, he-he-he…).
huehuehuehue
iyah, ditunggu mbak,,
ayo mbk no ..mbk no ..mbk no…mbok no…*sambil loncat2..
*opo to yo kiiiiiiiieeee..hueheueheehe..
AO apa kabar mba No’
Nah khan,…
Tulisanmu tuh selalu kutunggu, dimanapun yg bisa kujangkau. Di Buku Harian Sanggarkah, di blog inikah,..
Mbok ya nulis lagi dong Mbak…
*padahal kondisiku juga sama saja*
*sedang dalam keadaan yang Mb No ceritakan,,
persis banged,,
hohohoho
hamel yaa mbak …
DIISI DONG MBAK!!!
Fiuhh…
selalu harus ada permulaan untuk sesuatu yang kelak disebut hebat.
dan permulaan itu memang bisa biasa saja.
apalagi bila si hebatnya sudah ada.
tapi si biasa ini tetap akan memberi kesan mendalam kepada kita.
tidak kalah kesannya dengan si hebat.
karena masing-masing punya cita rasanya sendiri-sendiri.
ada cita rasa kehebatan.
dan ada cita rasa kepeloporan.
dua-duanya sama penting keberadaannya.