Rabu (18/6) yang lalu saya berniat untuk melakukan penarikan uang tunai di ATM BNI. Berhubung yang saya perlukan pecahan 20 ribu, maka saya pun “lari” ke ATM yang ada di BNI Cabang UGM, karena di sanalah ATM terdekat dari rumah saya ~selain ATM yang terdapat di BNI Cabang UNY~ yang menyediakan pecahan tersebut.
Seperti biasanya jika menarik uang pecahan 20 ribu, saya pun langsung menuju ke ATM yang posisinya paling barat. Mengantre satu orang, selanjutnya tanpa ba-bi-bu saya masukkan kartu ATM saya, & telunjuk kanan saya menekan tombol-tombol, melakukan tahap demi tahap proses penarikan uang tunai. Sampai akhirnya ketika dihadapkan pada pilihan nominal yang ingin ditarik, saya mendadak bengong: kok beda dari yang biasanya? Nominal terkecil 300 ribu?
Tak sempat untuk lebih lama lagi berbengong-ria karena di belakang saya sudah ada antrean berikutnya, saya buru-buru menekan tombol “cancel” & mengeluarkan kartu saya dari si mesin ajaib. Namun saya masih sempat melirik tulisan pada label yang tertera di atas mesin: Rp 100.000. Oh… pantas, sudah diganti rupanya… tapi kapan, ya? Lima hari sebelumnya saya masih melakukan hal yang sama, lho!
Kemudian saya bergeser ke empat ATM lain yang ~syukurlah…~ berada dalam ruang yang sama. Saya pikir, mungkin posisinya ditukar. Namun ternyata keempat ATM lain itu pun nominalnya tidak ada yang 20 ribu, hanya 50 ribu & 100 ribu.
Tak mau menyerah, saya lantas menuju BNI Cabang UNY, yang seingat saya di sana ada ATM untuk pecahan 20 ribu. Sambil memarkir & mengunci sepeda, saya amati label yang tertera di pintu ketiga ruang ATM yang ada di sana. Ternyata, Saudara-saudara… saya mendapatkan pemandangan yang tidak ada bedanya dengan yang saya dapati di ATM BNI Cabang UGM: tak ada lagi yang bernominal 20 ribu! Hiks… perjuangan saya menembus belantara kendaraan pribadi & motor di sepanjang UGM-UNY jadi serasa tak ada artinya…
Apa boleh buat, karena dompet saya memang sudah tipis, terpaksa saya menarik uang tunai yang pecahan 50 ribu saja. Maksud saya, menarik sebanyak dua lembar, karena yang saya perlukan lebih dari 50 ribu.
Selama perjalanan pulang ke rumah selepas pengalaman yang menyebalkan itu, saya berpikir & bertanya-tanya: apa, sih, yang ada dalam benak para penentu kebijakan di bank (baca: BNI), sampai akhirnya memutuskan untuk meniadakan ATM dengan nominal 20 ribu? Padahal…
1. Untuk penarikan tunai sampai 250 ribu, nasabah sangat dianjurkan (kalau tidak mau dikatakan “diwajibkan”) untuk melakukannya di ATM; jika lewat teller, maka nasabah dikenakan charge. Tak adanya pecahan 20 ribu di ATM akan menimbulkan “ketidakadilan” bagi nasabah kéré seperti saya yang ingin mengambil uang dalam nominal pas kelipatan 20 ribu atau 10 ribu yang “ganjil & bukan kelipatan 50 ribu” (misalnya 30 ribu atau 70 ribu) tapi kurang dari 250 ribu. Apakah harus memaksakan diri untuk menarik, misalnya, 50 ribu padahal benar-benar perlunya cuma 40 ribu? Sisanya yang 10 ribu mungkin bisa untuk jaga-jaga atau dikumpulkan untuk ditabung (lagi), tapi juga berpotensi untuk menimbulkan keborosan…
2. Tidak semua penjual (barang/jasa) berkenan menerima 50 ribu atau 100 ribu untuk pembayaran dengan nominal kecil, apalagi kalau baru mulai berjualan (pagi-pagi, misalnya). Contoh kasus, kalau kita naik angkot yang ongkosnya 3.000, sementara saat itu uang yang ada di tangan kita cuma 50 ribu, hampir bisa dipastikan kernet atau sopir menerima uang tersebut sambil mengomel.
3. Masih berhubungan dengan nomor 2, tidak semua orang bisa & mau menerima penukaran uang, apalagi yang bernominal besar. Coba perhatikan, di beberapa toko misalnya, dipasang pengumuman: TIDAK MENERIMA PENUKARAN UANG. Walhasil, kita terpaksa beli sesuatu dulu untuk “memecah” uang yang kita punya. Potensi pemborosan lagi, ‘kan? Sementara kondisi perekonomian saat ini menuntut kita untuk makin mengencangkan ikat pinggang (itu pun kalau pinggangnya masih ada…).
4. Saya yakin, masih banyak di antara kita yang merasa lebih nyaman jika uang tunai yang kita pegang bernominal kecil.
Benarlah pernyataan Faisal Basri dalam tulisannya di KOMPAS beberapa waktu yang lalu, (kebijakan per-)bank(-an) kita makin tidak bersahabat dengan rakyat kecil…
pertamax..
salam kenal ‘Gedhongwolu’., (artinya gedung delapan bukan?)
masa iya ga ada lagi pecahan 20ribu di ATM?yakin udah nguber ke semua tempat?atau mungkin cuma di Jogja aja? ^^
kemarin juga sempet berdiskusi dengan teman tentang perbankan kita., ternyata memang tidak dan belum akan berpihak dengan rakyat kecil.. selama UU perbankan kita belum diubah.. jalan masih panjang nih..
*naro duit di bawah bantal kayak nenek-kakek kita aja yuuk! ^^
salam hangat dari Riyadh
lha emange para pegawe bank mengenal recehan 20rb mbak?
bukane bagi mereka recehan terkecil itu 10.. dullar?
aku kemarin ke ATM yang 20 rb, tapi kok malah nominalku Rp 0.0 wah, kucabut ATMku dan aku balik…”sedang rusak kali..?!hehehhe
ada gak ya… ATM yang nominal terkecilnya permen tanggo 5 buah…hehehhe…
bener!!!
kembalikan ATM 20.000-an ke masyarakat!!!
tapi badan saya gedhe, tu.. termasuk rakyat kecil juga, ndag?
Artinya tanpa disadari, uang segitu saat ini sudah tidak ada artinya lagi. Ini yang disebut pengaruh laju inflasi kali ya?
bener deh
mulai kerasa