Musim mudik Idul Fitri 1428 H telah berlalu. Namun, sebagaimana musim-musim mudik sebelumnya, tersisa satu persoalan yang seolah tak berujung: kemacetan!
Ibarat penyakit, kemacetan musim mudik ala Indonesia bisa dikatakan kronis. Bagaimana tidak, tempat-tempat terjadinya kemacetan tersebut sejak era ‘80-an, ya… di situ-situ saja, bahkan ada kecenderungan untuk merambah tempat lain tiap tahunnya!
Kita boleh saja menyebut pasar tumpah, jalan yang rusak, jalan menyempit (bottle neck), atau jumlah kendaraan yang tak sepadan dengan volume jalan sebagai biang keladi kemacetan. Lalu, aparat yang berwenang pun mencoba untuk mengatasinya dengan ~di antaranya~ perbaikan jalan yang rusak, memperlebar/memperluas badan jalan, & penyediaan jalur-jalur alternatif.
Namun, itu semua akan terus menjadi retorika belaka sepanjang tak ada perbaikan perilaku para pengemudi kendaraan. Jika semua pengemudi bisa bersikap sabar & tertib, maka sepadat apa pun volume kendaraan di jalan, paling apes hanya akan timbul kondisi “padat setengah merayap”. Sebaliknya, tanpa kesabaran & ketertiban ~seperti yang selama ini kerap terjadi, jalan selebar apa pun takkan pernah cukup untuk tidak menimbulkan kemacetan.
Kuncinya sebenarnya sederhana: pengendalian ego untuk cepat sampai di tujuan. Hanya saja, sederhana memang tidak selalu identik dengan mudah. Celakanya lagi, hal yang sederhana adalah hal yang seringkali terlupakan, baik itu untuk diingat maupun dipelajari!
Nah, kita lihat saja musim mudik berikutnya. Jika penyakit yang sama masih juga bersarang dengan stadium yang setara, berarti benar bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tak pernah mau belajar…
Komentar Terakhir