Pitulasan, atau tujuh belasan, adalah suatu istilah khas yang mengacu pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Masyarakat dari segala lapisan menyambutnya dengan segala bentuk, mulai dari yang sifatnya sekedar untuk bersenang-senang sampai yang serius-hingga-bikin-kening-berkerut. Bahkan para komersialis pun tak luput untuk menggarapnya, bak momentum Lebaran & Tahun Baru, dengan berbagai paket bertajuk “promo merdeka” & lain-lain yang semacamnya.
Tak pelak, tiap orang Indonesia ~barangkali juga orang asing yang pernah bermukim di Indonesia~ pasti punya kenangan tersendiri akan pitulasan. Demikian pula halnya denganku. Sewaktu masih kecil sampai remaja tanggung (memangnya ada remaja yang nggak tanggung, ya?
) bisa dibilang aku tak pernah absen untuk merasakan kemeriahan pitulasan di tiga lokasi sekaligus: kompleks perumahan tempatku tinggal, kantor tempat bapakku bekerja, & kota. Ikut aneka lomba: balap karung, memasukkan pensil ke dalam botol, adu cepat bawa kelereng di atas sendok, baca puisi (puisi favorit: “Kerawang– Bekasi” karya Chairil Anwar!
), cerdas cermat, sampai gerak jalan; juga jadi penonton lomba & karnaval. Soal tonton-menonton ini, paling asyik kalau pas nonton lomba gerak jalan & sepeda hias karena jalan di depan rumahku sering dijadikan bagian dari rute perjalanannya, jadi tinggal nongkrong di “buk” depan rumah, hehehe… Kalau nggak ada yang lewat, ya… dibela-belain untuk nyegat di tempat yang dilalui lah!
Oh ya, acara-acara seremonial pun tak ketinggalan untuk dicicipi: upacara bendera pas tgl 17 Agustus-nya (yang ini setengah kewajiban, sih…
) plus nonton upacara di Istana Negara via televisi, serta tasyakuran di perumahan & kantor bapak.
Pengalaman lain yang tak kalah serunya adalah kala bersama beberapa teman mewakili sekolah untuk menjadi penyanyi aubade pada peringatan detik-detik proklamasi di kota. Wah… rasanya bahagia banget bisa dapat privilese untuk lepas dari rutinitas kelas selama beberapa saat demi mengikuti latihan! (kqkqkq…) Lucunya, terkadang ada teman yang sebenarnya tidak ikut aubade tapi ikut “meloloskan diri” ketika ada panggilan bagi peserta aubade untuk berlatih bersama di sekolah lain. Yah, namanya juga anak muda…
Setelah kuliah & tinggal di Jogja, acara lomba-lombaan pun menjadi masa lalu. Namun yang namanya urusan upacara jalan teruuusss… Seringnya, sih, jadi anggota tim penyanyi keuniversitasan (karena upacaranya di tingkat universitas; kalau di Istana sono, ya, penyanyi kenegaraan namanya, hehehe…), berhubung aku sudah merelakan diri jadi anggota Paduan Suara Mahasiswa.
Apa pun, yang namanya pitulasan tetap memiliki aura tersendiri & setengahnya sudah menjadi kebutuhan. Bukan sekedar ramainya merah-putih sepanjang jalan & gapura yang indah-megah-mempesona, aneka lomba, & pawai, pitulasan kiranya merupakan (salah satu) momen bagi bangsa Indonesia untuk mengekspresikan nasionalismenya sekaligus melepas kepenatan dari segala persoalan kehidupan. Bahkan sekalipun dalam tataran yang sangat komersial…
Komentar Terakhir