Say No to Tobacco! (2)

29 06 2007

Rokok mengandung nikotin, semua orang pasti tahu. Rokok mengandung unsur radioaktif (radionuklida)? Nah… aku yakin masih banyak yang belum tahu!
Sebenarnya radioaktivitas dalam rokok bukanlah hal yang aneh, karena pada dasarnya semua yang ada di bumi ~bahkan alam semesta~ ini bersifat radioaktif. Bisa dikatakan, radioaktivitas itu sendiri merupakan bagian dari keseimbangan ekologi. Namun, seperti halnya komponen-komponen fisika & kimia, radioaktivitas dapat menjadi gangguan jika porsinya berlebih.
Kembali mengenai keradioaktifan rokok, ada dua unsur yang menjadi “biang keladi”nya, yaitu polonium (210Po) & timbel (210Pb), yang semuanya termasuk dalam kelompok radionuklida dengan toksisitas (tingkat keberacunan) sangat tinggi. Po-210 adalah pemancar radiasi-α, sedangkan Pb-210 adalah pemancar radiasi-β. Kedua jenis radiasi tersebut, terutama radiasi-α, berpotensi untuk menimbulkan kerusakan sel tubuh apabila terhisap atau tertelan. Kejadian kanker paru pada perokok pun belakangan ditengarai lebih disebabkan oleh radiasi-α & bukan karena tar dalam tembakau.
Lalu, bagaimana 210Po & 210Pb bisa sampai di rokok?
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, semua yang ada di bumi pada dasarnya bersifat radioaktif. Tanah, sebagai tempat tumbuh tanaman tembakau yang merupakan bahan utama rokok, mengandung radium (226Ra). Radium ini adalah induk yang nantinya dapat meluruh, & dua di antara sekian banyak unsur luruhannya adalah 210Po & 210Pb. Melalui akar, 210Po & 210Pb pun terserap oleh tanaman tembakau. Penggunaan pupuk fosfat yang mengandung kedua unsur tersebut, tentu saja, menambah konsentrasi 210Po & 210Pb dalam tembakau.
Mekanisme lain, & ini adalah yang utama, adalah lewat daun. Po-210 & Pb-210 terendapkan pada permukaan daun tembakau sebagai hasil luruh dari gas radon (222Rn) yang berasal dari kerak bumi & lolos ke atmosfer. Daun tembakau memiliki kemampuan tinggi untuk menahan & kemudian mengakumulasi 210Po & 210Pb karena adanya bulu-bulu tipis ~yang disebut trichomes~ di ujung-ujungnya.
Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat gambar berikut.

http://prfamerica.org

 

 

Sekarang sudah jelas bagaimana caranya 210Po & 210Pb bisa sampai ke daun tembakau. Selanjutnya, kita tahu bahwa daun tembakaulah yang diolah menjadi rokok, & rokok dikonsumsi dengan cara dibakar-dihisap-(asapnya) dihembuskan. Pembakaran rokok itu sendiri menyebabkan teruapkannya polonium & dengan demikian asap rokok juga mengandung radiasi-α. Dapat kita bayangkan apa akibatnya jika kita menghisap asap rokok, baik secara sengaja maupun karena terpaksa! Perokok pasif, lagi-lagi, menjadi korban-yang-tak-semestinya, karena 75% aktivitas-α dari asap rokok masuk ke udara ambien tak terserap oleh perokok aktif.
Sayangnya, hampir semua kajian mengenai radioaktivitas dalam rokok adalah “made in” luar negeri; belum ada penelitian mengenai topik yang sama di Indonesia. Padahal bisa jadi fakta radioaktifnya rokok akan menjadi terapi yang ampuh untuk menghentikan kebiasaan merokok. Maklumlah, orang Indonesia kan masih sangat fobia dengan segala hal yang berbau nuklir… :D
Jadi, apakah Anda masih mau menjadi penikmat barang satu itu dengan segala risiko seperti yang telah dipaparkan di atas? Sungguh konyol jika jawabannya adalah “ya”!

(Diolah dari berbagai sumber)


Tindakan

Information

7 tanggapan

14 07 2007
rahmawati

Wah, susah juga ya.. Negara kita kan devisa negara terbesarnya dari rokok.. Jutaan orang andalkan hidupnya dari pabrik rokok. Sementara rokok mudharat nya na’udzubillah..! Huh, bingung!

10 11 2007
icheya

rokok jg bs berakibat fatal yg sm kalau kita nge-drugs!

14 11 2007
Caramell Chandra

kampanye anti rokok TIDAK AKAN membunuh industri rokok di Indonesia karna kampanye anti rokok hanya menghimbau masyarakat untuk tidak merokok bukan untuk menggusur industri rokok

orang yang sudah kecanduan rokok akan terus mencari rokok walau harga mahal, jadi naikkan saja harga rokok sehingga anak-anak skolah tidak bisa membeli rokok seenaknya.

rokok itu sifat adiktifnya melebihi NARKOBA kecuali kokain
jadi orang akan sulit berhenti merokok jika tubuhnya belum mencapai kadar adiktif rokok tersebut.
kampanye anti rokok setidaknya menyelamatkan generasi muda dari kecanduan rokok.
lebih baik mencegah dari pada mengobati kan….

9 12 2007
wenny

di mana-mana rokok..
merokok sudah menjadi kebutuhan penting sebagian besar masyarakat Indonesia. ya, karena kita semua tahu bahwa merokok adalah candu, layaknya narkoba. Bahkan, bagi orang yang hidup pas-pasan, mereka cenderung lebih mmilih membeli rokok dibandingkan untuk membeli makan. Sudah separah itukah kondisi bangsa ini?
Selama ini banyak pemerhati masalah rokok. Tapi, sepertinya masih kurang dalam realitanya. Masalah rokok sulit dihapuskan. Menyangkut juga masalah ekonomi negara.
Jadi, bagaimana kita harus bersikap terhadap rokok?
Saya tetap ‘SAY NO TO SMOKING’, dan siap mengikuti setiap gerakan nyata untuk perubahan ke arah yang lebih baik.

12 04 2009
agung

wah edan rokok ki bahaya to….Menggandung Minizodiak Glutamat.^-^(zat Pembunuh)

23 05 2009
sufyan

memang sama saja daun tembakau dengan daun ganja ?

23 08 2009
dinbakir

Posting yang bagus salam kenal

Tinggalkan komentar