Rokok mengandung nikotin, semua orang pasti tahu. Rokok mengandung unsur radioaktif (radionuklida)? Nah… aku yakin masih banyak yang belum tahu!
Sebenarnya radioaktivitas dalam rokok bukanlah hal yang aneh, karena pada dasarnya semua yang ada di bumi ~bahkan alam semesta~ ini bersifat radioaktif. Bisa dikatakan, radioaktivitas itu sendiri merupakan bagian dari keseimbangan ekologi. Namun, seperti halnya komponen-komponen fisika & kimia, radioaktivitas dapat menjadi gangguan jika porsinya berlebih.
Kembali mengenai keradioaktifan rokok, ada dua unsur yang menjadi “biang keladi”nya, yaitu polonium (210Po) & timbel (210Pb), yang semuanya termasuk dalam kelompok radionuklida dengan toksisitas (tingkat keberacunan) sangat tinggi. Po-210 adalah pemancar radiasi-α, sedangkan Pb-210 adalah pemancar radiasi-β. Kedua jenis radiasi tersebut, terutama radiasi-α, berpotensi untuk menimbulkan kerusakan sel tubuh apabila terhisap atau tertelan. Kejadian kanker paru pada perokok pun belakangan ditengarai lebih disebabkan oleh radiasi-α & bukan karena tar dalam tembakau.
Lalu, bagaimana 210Po & 210Pb bisa sampai di rokok?
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, semua yang ada di bumi pada dasarnya bersifat radioaktif. Tanah, sebagai tempat tumbuh tanaman tembakau yang merupakan bahan utama rokok, mengandung radium (226Ra). Radium ini adalah induk yang nantinya dapat meluruh, & dua di antara sekian banyak unsur luruhannya adalah 210Po & 210Pb. Melalui akar, 210Po & 210Pb pun terserap oleh tanaman tembakau. Penggunaan pupuk fosfat yang mengandung kedua unsur tersebut, tentu saja, menambah konsentrasi 210Po & 210Pb dalam tembakau.
Mekanisme lain, & ini adalah yang utama, adalah lewat daun. Po-210 & Pb-210 terendapkan pada permukaan daun tembakau sebagai hasil luruh dari gas radon (222Rn) yang berasal dari kerak bumi & lolos ke atmosfer. Daun tembakau memiliki kemampuan tinggi untuk menahan & kemudian mengakumulasi 210Po & 210Pb karena adanya bulu-bulu tipis ~yang disebut trichomes~ di ujung-ujungnya.
Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat gambar berikut.

Sekarang sudah jelas bagaimana caranya 210Po & 210Pb bisa sampai ke daun tembakau. Selanjutnya, kita tahu bahwa daun tembakaulah yang diolah menjadi rokok, & rokok dikonsumsi dengan cara dibakar-dihisap-(asapnya) dihembuskan. Pembakaran rokok itu sendiri menyebabkan teruapkannya polonium & dengan demikian asap rokok juga mengandung radiasi-α. Dapat kita bayangkan apa akibatnya jika kita menghisap asap rokok, baik secara sengaja maupun karena terpaksa! Perokok pasif, lagi-lagi, menjadi korban-yang-tak-semestinya, karena 75% aktivitas-α dari asap rokok masuk ke udara ambien tak terserap oleh perokok aktif.
Sayangnya, hampir semua kajian mengenai radioaktivitas dalam rokok adalah “made in” luar negeri; belum ada penelitian mengenai topik yang sama di Indonesia. Padahal bisa jadi fakta radioaktifnya rokok akan menjadi terapi yang ampuh untuk menghentikan kebiasaan merokok. Maklumlah, orang Indonesia kan masih sangat fobia dengan segala hal yang berbau nuklir… ![]()
Jadi, apakah Anda masih mau menjadi penikmat barang satu itu dengan segala risiko seperti yang telah dipaparkan di atas? Sungguh konyol jika jawabannya adalah “ya”!
(Diolah dari berbagai sumber)
Komentar Terakhir