No Woman, No Cry; No Man? Peduli Amat…

22 04 2007

Keberadaan kaum Adam dalam suatu rumah tangga tidak selamanya lantas menjamin segala hal yang “bersifat maskulin” akan selalu beres. Mau bukti? Tadi pagi aku musti merelakan diri untuk menjelajah atap rumah, demi membersihkan tumpukan sampah daun yang sukses membuat talang air menjadi buntu hingga menyebabkan banjir lokal di dapur & gudang –yang posisinya memang bersebelahan. Padahal… ada seorang kakak lelaki –kebetulan (hmmhh?!?) sama-sama masih lajang– yang tinggal bersamaku, lho! Dia, sih, beralasan gamang. Ya sudah, kalau alasannya menyangkut urusan kesehatan, apa boleh buat, hehehe… Lagipula dia juga harus bersiap untuk berangkat kerja. Toh, setidaknya dia masih dapat diberdayakan untuk memegangi tangga saat aku naik & turun, hehehe…

Pernah juga aku harus mengambil buah pepaya yang cukup besar pada ketinggian sekitar 3 meter di atas permukaan tanah. Pakai tangga, sih… batang pohon pepaya, kan, agak licin :=P. Nah, untuk kasus yang satu ini, memang aku yang menawarkan diri. Pasalnya, kondisi tanah di sekitar pohon pepaya itu agak riskan (lembek), jadi dikhawatirkan bisa membuat posisi tangga tak stabil jika dinaiki orang yang cukup berbobot seperti bapak & kakak laki-lakiku (wuehehe… ketahuan, deh, kalau aku ini kurang berbobot!). Untung saja keluargaku tergolong egaliter, jadi nggak ada yang protes “cewek, kok, manjat-manjat!”… :D

Mmm… perhatian, sama sekali tak ada maksud untuk “pamer keperkasaan”, lho! Aku, melalui tulisan ini, cuma ingin memberikan motivasi kepada kaum sesamaku untuk tidak terlalu bergantung kepada laki-laki, untuk tidak pernah mengeluh yang semacam “andai saja ada cowok di sini…”, seolah jika tak ada laki-laki lantas pekerjaan “maskulin” tak bisa terselesaikan. (Lagipula, sesungguhnya tak ada pekerjaan yang eksklusif: ini pekerjaan laki-laki, itu pekerjaan perempuan. Manusia saja yang kurang kerjaan, melakukan pengkotak-kotakan yang nggak penting… :P )

Bagaimanapun ada saat-saat tertentu perempuan harus hidup tanpa pria, seperti halnya ada saat-saat tertentu pula perempuan memerlukan kehadiran pria. Hidup musti seimbang, to? (hehe… nyambung nggak, sih?)

 

Karanggayam, jelang tengah malam 20 April 2007





In Memoriam: Prof. Koesnadi Hardjasoemantri (9 Desember 1926 – 7 Maret 2007)

22 04 2007

Empat puluh hari telah silam sejak terjadinya kecelakaan pesawat Garuda GA-200 di Yogyakarta. Berarti sudah empat puluh hari pula Pak Koes pergi meninggalkan dunia ini, menghadap Sang Ilahi. Namun, terkadang masih terbersit perasaan tidak percaya bahwa beliau kini hanya tinggal kenangan, juga perasaan tidak bisa menerima cara meninggalnya yang begitu tragis…

Sosok Pak Koes sudah kuakrabi sejak aku masih duduk di bangku SD sekitar 20 thn yang lalu. Kehadiran beliau dalam acara reuni KAGAMA (Keluarga Alumni Gadjah Mada) Jawa Timur waktu itu, entah mengapa, membekaskan kesan yang sampai sekarang tak lekang dari ingatanku. Mungkin itulah bibit kekagumanku terhadap seorang Pak Koes, & bibit itu kemudian tumbuh menjadi tunas, tanaman, & akhirnya menjadi pohon yang berakar kuat pada saat aku resmi menjadi warga UGM. Walaupun tak mengalami secara langsung kepemimpinan Pak Koes sebagai rektor, tapi keterlibatanku dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka & Paduan Suara Mahasiswa (PSM) membuatku bisa mengenal beliau lebih dekat lagi (karena cukup seringnya para senior bercerita mengenai betapa luar biasanya beliau), bertemu langsung, bahkan sempat mewawancarai untuk buletin UKM Pramuka; & terbukti bahwa beliau memang sosok dengan kepositifan yang tiada duanya bagi semua kalangan. Bersama teman-teman di PSM, aku pun pernah bertandang ke rumah beliau yang asri di kawasan Ngaglik, Sleman. Keputusanku untuk bersekolah di Ilmu Lingkungan UGM ternyata juga menjadi salah satu keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidupku, karena hal itu membawaku untuk merasakan pengalaman “diberi kuliah oleh Prof. Koesnadi”, meski hanya untuk satu matakuliah. Terakhir kali aku sempat melihat Pak Koes pada tgl. 16 Desember 2006 di Balairung UGM, tepat seminggu setelah ulang tahun beliau yang ke-80. Waktu itu aku menghadiri undangan upacara pelantikan pengurus baru UKM Pramuka, & di tengah-tengah kekhidmatan mengikuti jalannya upacara, mataku menangkap lewatnya Pak Koes yang sepertinya hendak ke ruang rektorat di lantai atas. Sambil berjalan, beliau tampak memperhatikan kami yang sedang upacara; mungkin beliau merasa bahagia karena kepramukaan masih hidup di UGM. Melihat penampilan beliau yang masih cukup “mêtègès” untuk ukuran orang seusianya, aku tak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi “pertemuan” terakhirku dengan beliau…

Berapa pun banyaknya kata, rasanya, takkan pernah cukup untuk menggambarkan sosok Pak Koes. Bagiku sendiri, sebagai seorang manusia beliau adalah pribadi yang boleh dikatakan nyaris tanpa cela. Satu hal yang belum sempat kutanyakan kepada beliau hingga akhir hayatnya: mengapa jumlah halaman tugas makalah Hukum Lingkungan harus minimal 75? Pertanyaan yang memang terkesan konyol, & sepertinya Tuhan pun lebih menghendaki pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan dengan cara-Nya… :)

Hari ini, aku membaca di harian KOMPAS perihal peresmian perubahan nama Pusat Kebudayaan UGM menjadi Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH). Teringat kembali masa-masa ketika Pak Koes masih hidup. Teringat kembali pula kepedihan ketika menerima kabar bahwa salah satu jenazah korban terbakarnya GA-200 adalah (teridentifikasi sebagai) Prof. Koesnadi. Namun, rasanya cukup sudah kesenduan itu, karena Insya Allah beliau kini berada di tempat yang jauh lebih indah daripada bumi & tersenyum menyaksikan kami senantiasa berupaya menularkan semangat hidupnya yang membara dari generasi ke generasi…

 

Karanggayam, waktu Dhuha 16 April 2007





Lahan di Dekat Tikungan Itu…

22 04 2007

Satu hal yang menjadi kesukaanku ketika mengendarai sepeda adalah tengok kanan-kiri mengamati segala obyek yang ada di depan mataku. Kebiasaan yang sebenarnya di satu sisi kurang bagus karena kalau sedikit saja lengah maka taruhannya adalah keselamatanku, tapi di sisi lain merupakan pengalaman berharga mahal karena tak jarang yang kudapati adalah sesuatu yang membuatku berpikir ulang akan esensi hidup (sok dalam, hee… :D ).

Belakangan ini, seiring dengan seringnya aku melintasi jalan di depan kompleks Fakultas Peternakan & Fakultas Kedokteran Hewan UGM –kalau tidak salah nama resminya adalah Jl. Agro, ada satu obyek yang cukup intens kuamati: sebuah plang yang tegak berdiri persis di sekitar tikungan & percabangan jalan. Plang itu mudah terlihat jika kita melintasi jalan dari arah timur (dari arah Jl. Gejayan).

Lalu apa, sih, yang menarik dari obyek tersebut? Coba perhatikan kata-kata di bawah ini.

 

Kompleks KOSUDGAMA
(Luas tanah 80002)
Dilarang mendirikan bangunan dan berjualan di sini

 

Itulah tulisan yang tertera pada plang yang menarik perhatianku itu. Pertama kali membacanya, aku hanya berpikir, oh… lahan punya KOSUDGAMA to… (KOSUDGAMA: Koperasi Serba Usaha Dosen Gadjah Mada—pen.) Namun pada kali kedua, ketiga, dst. membacanya, kata-kata itu membuatku tersenyum geli sekaligus meringis ironis. Mengapa?

Pertama, apa makna dari 80002? Memang sudah jelas dari dua kata yang mendahuluinya bahwa angka-angka tersebut menyatakan luas, tapi satuannya apa? Meter persegi? Sentimeter persegi? Kilometer persegi? Hektar? Ini jelas kesalahan yang menurutku cukup fatal karena terjadi dalam lingkup kampus yang konon banyak berisikan kaum intelek. Anak SD yang sudah paham mengenai penggunaan satuan pun pasti akan menertawakan “kesalahan teknis” tersebut jika mereka membacanya.

Kedua, apa yang ada di sekitar plang itu sungguh kontradiktif: ada bangunan –memang semipermanen, tapi tetap saja namanya bangunan ‘kan?– & ada banyak penjual. Ini tak ada bedanya dengan gundukan sampah di bawah plang bertuliskan “Dilarang Membuang Sampah di Sini”. :D

Nah… yang aku herankan kemudian, apakah tak ada seorang pun –terutama yang merasa dirinya sebagai warga UGM, khususnya lagi oknum KOSUDGAMA– yang pernah menyadari kejanggalan plang itu? Padahal kalau ditilik dari penampilan fisiknya (juga tulisan 80002 itu), usia plang tersebut sudah cukup lama, bahkan tak menutup kemungkinan selama keberadaanku di Jogja yang hampir 13 thn.

Atau, sebenarnya ada yang sempat tercuri juga perhatiannya tapi ujung-ujungnya cuma bisa membatin, seperti halnya diriku? Taruhlah orang-orang yang berjualan di situ, aku pikir mereka mestinya pernah menyadari keberadaan plang tersebut, tapi kemudian lebih memilih untuk bersikap bak “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, he-he-he…

Entahlah, tapi yang jelas hal itu menunjukkan kurangnya perhatian UGM –khususnya pihak KOSUDGAMA– terhadap lahan miliknya sendiri. Aku juga tak pernah menangkap isu mengenai apa yang sebenarnya hendak didirikan di atas lahan tersebut.

Semoga saja dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, plang itu tidak lagi sekedar menjadi macan kertas. Terserah lahan itu nantinya mau dijadikan apa, tapi menurutku, sih… daripada didirikan bangunan di atasnya lebih baik dijadikan hutan kota kawasan timur UGM, melengkapi arboretum & hutan Pardiyan yang ada di kawasan barat & tengah, juga sebagai penyeimbang kumpulan beton yang ada di seberangnya. Lantas, bagaimana dengan nasib orang-orang yang selama ini berjualan di situ? Hmm… urusan yang satu ini lebih baik diserahkan saja kepada pihak yang lebih berkompeten, ya… :)

 

Karanggayam, lepas Subuh 16 April 2007