Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan bertemu esok hari, malam ini, bahkan (mungkin) satu detik ke depan… Aku sudah buktikan itu berkali-kali, & kejadian yang terakhir adalah tadi siang. Ketika aku lewat di depan kampus FH UGM dalam perjalanan pulang ke rumah, sebuah mobil warna putih (atau abu2 ya? Heh… dasar bukan pengingat yang baik!
) menyalipku &… lho… kok cewek yang nyetir mobil itu dadah2 ke aku? Kuperhatikan baik2… ya ampun, itu kan temanku kursus bhs Perancis waktu masih sama2 culun! Eee… kamsudku sama2 culun itu adalah kelas dasar banget, gitu loh… ![]()
Nah… nggak nyangka sama sekali, soalnya terakhir kali ketemu ya sudah lama banget, empat thn lebihlah kayaknya…
Beberapa minggu y.l. juga terjadi peristiwa serupa. Aku ketemu dengan eks teman kost di Kafe KOPMA UGM! Lhah… padahal aku keluar dari kost kami, kan, sudah 9 thn lamanya & selama itu pulalah bisa dibilang nggak ada kontak sama sekali. Usut punya usut, rupanya si mbak yang sudah berputeri dua itu sedang cuti kerja ~mumpung anaknya sedang libur sekolah, gitu…~ sekalian nengok suaminya yang (ternyata) kerja di Jogja. Ealah… pantes rasanya aku seperti pernah melihat si mas sliweran di Gelanggang, tapi tak pikir kebetulan aja tampangnya mirip, hehehe…
Surprising moment
26 01 2007Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Ruang Lama
Ironi FFI 2006 (3)
11 01 2007Aku pikir tulisanku seputar hasil FFI 2006 adalah seri terakhir dari tulisanku mengenai FFI 2006. Ternyata aku salah, karena pada awal tahun ini terjadi “kehebohan” susulan yang diawaki Riri Riza cs.: ramai-ramai mengembalikan Piala Citra kepada panitia & pemerintah. Jadilah aku gatal untuk bikin lagi sekuel tulisan Ironi FFI 2006, hehehe… tapi untuk seri 3 ini sepertinya singkat saja lah…
Tak bisa dipungkiri, pengembalian Piala Citra itu memang dipicu oleh kemenangan Ekskul sebagai film bioskop terbaik FFI 2006. Namun berbicara dalam tataran yang lebih luas lagi, adalah keprihatinan & keinginan untuk melakukan pembaharuan atas kondisi perfilman Indonesia secara umum yang melandasi gerakan tersebut.
Yah… aku mengamini saja (maklum, termasuk yang sebel banget dengan dagelan-yang-tidak-lucu FFI kemarin, terutama menangnya Ekskul, hehehe…), walaupun sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ekses dari menangnya Ekskul akan sampai sejauh itu. Sekaligus, merasa prihatin & geli dengan komentar beberapa juri dalam menanggapi aksi Riri Riza dkk. Arogansi pribadi & kelompok? Ekskul film terbaik sepanjang FFI 2004-2006? Keputusan juri tidak bisa diganggu gugat? Wahai… sekarang siapa yang sebenarnya arogan jika Anda berkomentar seperti itu?
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Ruang Lama
Terbit Lagi!
11 01 2007Ya… blog ini akhirnya terbit lagi, setelah untuk beberapa saat lamanya mengalami kehampaan akibat macetnya produktivitas sang kolumnis tetap. Bukan semata kemacetan produktivitas, sih… tapi juga ada force majeur yang aku yakin sampéyan semua sudah mafhum: gempa bumi di Taiwan yang mengakibatkan putusnya kabel serat optik bawah laut, & dampaknya adalah kelumpuhan arus komunikasi & internet dunia ~terutama di kawasan Asia~ sampai sekitar 80%. Memang tidak sampai putus total, tapi berselancar dengan koneksi yang lemot-lelet-letoy begitu, siapa yang tahan…
Belum lagi laptopku kemudian ikut-ikutan ngadat. Setelah dicek, ternyata ada korosi pada mainboardnya. Untung saja masih tertolong karena segera kubawa ke tukang servis begitu mendapati adanya ketidakberesan. Walhasil, seminggu laptopku dirawat inap, seminggu itu pula aku nggak bisa bikin stok tulisan apa pun (padahal sebenarnya kalo mau, kan, bisa ditulis tangan dulu ya, hehehe…). Lengkap sudah penderitaanku!
Nah… sekarang semuanya sudah kembali normal, jadi sampéyan semua juga bisa kembali mengunyah kata demi kata yang kumasak dengan sepenuh cinta khusus untuk dihidangkan di sini (aishsh… hiperbola!). Kalau kurang garam, gula, atau merica, tolong kasih tahu, ya… (lho, gimana sih, wong kurang garam, kok, malah dikasih tahu?!?)
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Ruang Lama
Plintat-plintut kêmaki
10 01 2007Hari itu, pagi-pagi, aku sudah terbit di kompleks Pusat Teknologi Akselerator & Proses Bahan (PTAPB) BATAN Yogyakarta setelah sekitar 20 menit mengayuh pedal sepeda dari rumah, menyusuri Selokan Mataram. Aku berniat untuk ke perpustakaan instansi tersebut, mencari prosiding terbaru.
Berhubung ada prosedur yang mengharuskan semua tamu untuk lapor terlebih dahulu, aku pun masuk ruang pos penjagaan yang terletak di dekat gerbang utama.
“Dari mana, Mbak?”
“Dari UGM, mau ke perpustakaan, Pak.”
“Mbak bawa rok?”
Aku agak terperangah. Perasaan kemarin-kemarin (beberapa bulan yang lalu) aku ke situ selalu pakai celana panjang & bebas masuk, tuh… termasuk sewaktu aku mengerjakan analisis sampel di laboratorium untuk TA S1-ku 4 thn yang lalu. Lalu sejak kapan peraturannya berubah (lagi)?
“Lho, biasanya saya, ya, begini ini kalau ke sini… lagipula kan cuma mau ke perpustakaan!”
“Ndak… dari dulu aturannya juga harus pakai rok. Mbaknya sejak kapan ke sini? Saya di sini sudah 16 thn, lho!”
Itu aku juga sudah tahu banget, Pak’é… wong aku sudah rajin dolan ke situ sejak zaman kuda gigit besi, tapi setahuku juga aturannya sudah diubah loh! Sampéyan di situ sudah 16 thn? Ah, yang bener… kalau di BATAN-nya mungkin iya, tapi aku tidak pernah tuh, lihat wajah sampéyan di pos penjagaan ini! (hehehe… tentu saja semua itu hanya kuucapkan dalam hati!)
“Maaf ya, Mbak, tapi kalau kami memperbolehkan masuk nanti kami yang kena marah.”
Aku mencoba terus mendebat.
“Celananya ketat ndak?”
Halah… masak dari tadi tidak teramati to?!?
“Ya sudah, yang ini perkecualian, tapi lain kali kalau ke sini pakai rok, ya!”
Hhh… akhirnya si bapak mengalah, mungkin juga kasihan karena tahu aku sudah jauh-jauh naik sepeda. Masak sih, disuruh balik lagi untuk ganti rok…
Aku pun melenggang ke perpustakaan yang letaknya bersebelahan dengan ruang administrasi & dokumentasi. Kusempatkan untuk menengok sebentar papan kaca yang berisi pengumuman peraturan pengunjung & siswa/mahasiswa yang melakukan penelitian/KP, mencari konfirmasi soal peraturan pakai rok. Ternyata masih sama tuh, dengan yang kubaca beberapa bulan yang lalu ketika terakhir kali aku ke situ: mengenakan pakaian yang sopan & rapi, tidak memakai rok mini. Itu saja!
Hmm… aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Gelengan kepalaku makin kencang (aduh… pusing dong! =D) ketika di dalam ruang perpustakaan aku melihat seorang pegawai perempuan memakai celana panjang. C’est bizarre, ce bureau… Jadi nggak jelas siapa yang sebenarnya plin-plan, tapi kalau dipikir-pikir, kadang-kadang memang pegawai yang hitungannya cuma kroco justru lebih sok (kêmaki, kalau kata orang Jawa). Dalihnya pun, ajaibnya, nyaris seragam: cuma menjalankan tugas atau peraturan! Mending kalau peraturannya memang jelas, ada hitam di atas putih yang menyebutkan secara gamblang, lhah… yang kualami tadi kan malah mengada-adakan aturan yang justru tidak ada atau sudah tidak berlaku lagi!
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Ruang Lama
Komentar Terakhir