Si Alda

24 12 2006

Berita heboh seputar meninggalnya Alda Risma, penyanyi yang melejit dalam semesta musik Indonesia lewat lagu Aku Tak Biasa, mau tak mau mengingatkanku pada masa KKN sekitar pertengahan tahun 1998. Sudah jamak bagi mahasiswa yang KKN untuk memanfaatkan motor sebagai sarana utama dalam mobilitasnya. Maklum, wilayah kerjanya kan, biasanya masih pelosok banget & tidak terjangkau oleh transportasi umum. Demikian juga dengan sub-unit KKN yang kuikuti, mobilitas kami bertujuh ditunjang oleh 3 motor bebek & 1 motor setengah besar yang dibawa oleh empat pandawa penghuni sub-unit.

Nah… salah satu dari 3 motor bebek itu bernama “Si Alda”. Rupanya si empunya adalah penggemar Alda yang waktu itu memang sedang jadi la plus fameuse débutante berkat suara apik & wajah ayunya (masih ABG pula… =D). Layaknya kepada Alda yang manusia, pemilik “Si Alda” pun memperlakukan motornya itu dengan penuh kasih sayang. Mungkin dia berprinsip “nggak bisa membelai Alda, ngelus ‘Si Alda’ pun jadilah…”, hehehe… Padahal kalau dilihat-lihat, sih, “Si Alda” tidak ada bedanya dengan motor bebek lainnya. Tidak lebih cantik, tidak juga lebih mulus & kinclong.

Entah, apakah sampai sekarang motor itu masih tetap dipanggil “Si Alda” atau tidak. Malah bisa jadi posisinya sudah digantikan oleh sebuah mobil bernama ~misalnya~ “Si Dian”, kqkqkq…

Hmmm… jadi kangen nih, dengan teman-teman sepondokan KKN… Erika, Ratmi, Yudhis, Sulis, Okky, & Paul, apa kabar kalian? Reuni di Puspo, yuk… =P





Sebuah Dongeng tentang Sepeda-sepedaku

24 12 2006

Sejak SMP aku sudah terbiasa ngelayap dengan sepeda, walaupun pada saat itu untuk urusan pp ke & dari sekolah aku masih dilanggankan becak oleh orang tuaku. Ya… taruhlah untuk kelas Olah Raga yang biasa dilaksanakan jam setengah enam sampai tujuh pagi di Alun-alun atau Stadion Kota Pasuruan, juga untuk urusan (latihan) Pramuka. Atau kalau pas siang-siang kepingin main ke Krampyangan atau Tembokrejo yang pada waktu itu masih didominasi sawah (gila nggak sih… bukannya tidur siang tapi malah pit-pitan 2 km dari rumah! Pantas kalau kulitku jadi melegam begitu, hehehe…). Nah… untuk yang terakhir ini, biasanya aku nyulik sepeda jengki milik tukang kebun harian keluargaku. Pasalnya, sepeda mini Five Rams punyaku sendiri terlalu kecil untuk diajak jalan jauh. Kasihan ‘kan… =D

Beranjak SMA, aku sudah boleh full bersepeda ke mana pun. Ibu & Bapak rupanya sudah rela kalau bungsunya ini tiap hari bergaul dengan bis-bis antarkota & truk-truk besar yang selalu dijumpai dalam perjalanan rumah-sekolah pp. =) Tungganganku pun diganti dengan yang lebih besar: sepeda jengki Phoenix warna hitam. Untuk ukuran 15 tahun yang lalu, terlebih di kota kecil, sepeda jenis itu sudah tergolong bergengsi, lho… Petualanganku bersama sepeda pun makin lebar jangkauannya. Paling jauh adalah ketika aku & seorang sahabatku bersepeda tanpa tujuan jelas, mblusuk ke perkampungan, & tahu-tahu ketika sudah ketemu jalan besar lagi ternyata kami sudah berada di daerah Rejoso yang jauhnya sekitar 12 km dari pusat kota! (Nen… hope you to always remember that moment!)

Masuk kuliah & mulai tinggal di Jogja, sepeda tetap menjadi pilihan moda transportasiku. Menyesuaikan dengan topografi wilayah jelajah yang rata-rata naik-turun, sepeda gunung Federal (yang pada saat itu sedang booming) warna ungu pun menggantikan tugas si Phoenix hitam menemaniku bepergian. Namun, baru hari pertama kuliah, si Fedy ungu yang waktu itu kuparkir di bawah pohon dekat selasar Fisipol sudah digondol maling. Walah… padahal sudah dikunci, lho! Ya sudah, terpaksa (minta di)beli(kan) sepeda baru lagi. Pilihan tetap sepeda gunung Federal, warna biru, harga lebih murah. Lumayan, bisa lebih lama bertahan, tetapi ternyata umurnya pun tak panjang. Si Fedy biru itu raib ketika diparkir di halaman belakang Gelanggang setelah dipinjam seorang teman. Huaaa…

Berhubung butuh banget, aku pun segera mencari sepeda pengganti. Tetap Fedy biru, tapi harganya lebih murah lagi daripada yang generasi pertama. Herannya, si maling tak juga kapok & walhasil si Fedy biru jilid dua ikut-ikutan kakak-kakaknya menghilang. Kejadian kehilangan sepeda untuk yang ketiga kalinya ini lebih “parah” lagi, karena TKP-nya di parkiran kampus jurusanku, jam pertama kuliah yang ternyata kosong, sudah kukunci & kuparkir di tempat yang sangat bisa kuciri, & saat itu sudah ada orang di kantin jurusan yang letaknya persis bersebelahan dengan areal parkir. Heheh… dasar belum jodoh ‘kali ya… Total dalam rentang waktu sekitar setahun aku sudah tiga kali kemalingan sepeda. Really bad track-record! =P

Satu semester “dihukum” jalan kaki & naik transportasi publik Kota Jogja yang kacau untuk bepergian, akhirnya pada 18 Juni 1996 aku diizinkan punya sepeda lagi. Sepeda gunung Feroza warna biru & dengan harga yang lebih murah lagi daripada sepeda ketiga menjadi pilihan. Harap-harap cemas juga sih, kira-kira bisa awet berapa lama yang ini, hehehe… Alhamdulillâh, si Feroza benar-benar setia menemaniku & sekarang sudah lebih dari 10 tahun dia menjadi saksi dari kegilaanku ngelayap ;-P. Entah sudah berapa kilometer ditempuhnya, berapa banyak tempat yang disambanginya, juga berapa buah ban, kabel rem, kanvas rem, & rantai yang dihabiskannya; yang jelas dia sudah seperti separuh nyawaku (halah…).

Kalau mau dibikin “riwayat hidup” singkatnya, mungkin antara lain seperti ini: pernah nyasar sampai ke Seyegan (sekitar KM 15 Jl. Magelang!) waktu usianya belum lagi sebulan, menempuh Karanggayam-Madukismo pp demi tugas KP, sekitar setahun berute Nogotirto-UGM pp, & pernah keliling Babarsari-Ringroad Timur-Ringroad Selatan-Ringroad Barat (perempatan Jl. Wates)-Kota-Karanggayam persis sebulan setelah gempa 5,9 SR. Édian tênan to… =D Tentu saja tidak boleh dilupakan jasanya dalam turut serta mengantarkanku sampai lulus kuliah. Lalu, setahun belakangan ini, si Feroza juga mulai merambah rute Karanggayam-Ringroad Utara-Tajem-Sidokarto (Kalasan).

Hmmm… sebenarnya mulai kasihan juga, sih, dengan dia. Usianya kian tua & badannya makin sering sakit-sakitan. Apalagi kondisi jalan di Jogja yang ibarat surganya polisi tidur (seorang temanku malah bilang polisi hamil, hehehe…), bikin body-nya tambah cepat rapuh karena sering terguncang. Belum lagi gearshift-nya sudah mati total & terkunci di gigi terbesar, yang memaksanya untuk kerja ekstra kalau ada tanjakan.

Jadi, aku sudah mulai berpikiran untuk memensiunkan si Feroza, begitulah… Calon penggantinya pun sudah terbayang: city bike Sierra cap Polygon warna biru.

www.polygoncycle.com

Wuihhh… pertama kali lihat Sierra itu aku langsung jatuh cinta! Spesifikasinya pas banget dengan kebutuhanku. Tapi, sampai detik ini, si Sierra masih tetap jadi bayangan alias impian saja. Duitnya belum ada, sih… :-( Mau minta ke ortu, kan, sudah nggak pantes lagi. Barangkali aku masih harus menunggu sampai aku dapat tiga bulan gaji pertamaku, ya… itu pun dengan syarat gaji minimal 1 juta & harga si Sierra tidak mengalami kenaikan, hehehe…

Percaya tidak, saking kepinginnya untuk segera memensiunkan si Feroza, untuk ulang tahunku beberapa bulan yang lalu aku sempat make a wish seperti ini: semoga ada yang berbaik hati ngasih aku kado city bike atau sepeda listrik! Hahaha… & ternyata harapan tinggal harapan; boro-boro sepeda, kado-apa-pun saja aku nggak dapat, kok… Tapi yang namanya berharap, kan, nggak dilarang undang-undang mana pun, iya toh… =P





Ironi FFI 2006 (2)

24 12 2006

Sempurna sudah “keloetjoean” FFI tahun 2006 dengan diumumkannya Ekskul sebagai peraih Citra untuk kategori film terbaik! Entah ya, sepertinya juri FFI 2006 habis dicekoki arak satu gentong besar sehingga memunculkan hasil penilaian nan ajaib & kontroversial, hehehe…

Tak ada sambutan gegap-gempita dari hadirin di Assembly Hall JHCC seperti ketika Arisan! & Gie mendapat penghargaan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya; hanya ada sedikit keterkejutan dari kru Ekskul. Bahkan kulihat (dari layar TV, tentu saja) Slamet Rahardjo & Didi Petet pasang ekspresi agak gimana… gitu, mungkin antara bingung & tak percaya…

Mau dibawa ke mana lagi perfilman Indonesia? Bayangkan, di tengah perjuangan melawan tayangan kekerasan di TV, juri FFI 2006 justru seolah mengamini penyelesaian masalah dengan cara kekerasan seperti yang ditampilkan dalam Ekskul.

Begitu ajaibnya FFI 2006, sampai-sampai seorang Hanung Bramantyo mengecam bahwa kredibilitas FFI sudah turun & ia pun memutuskan untuk tidak berpartisipasi lagi. Nah lo… dia yang paham banget tetek-bengek film saja bisa bilang seperti itu!





Indonesia Punya Kunyit, Jepang Punya Paten (?)

13 12 2006

Kunyit (Curcuma domestica), atau orang Jawa menyebutnya kunir, adalah tanaman rempah asli Indonesia. Anggota keluarga jahe-jahean (Zingiberaceae) yang paling produktif ini banyak dibudidayakan karena rasa khas & warna kuning menyala yang dimilikinya. Salah satu masakan khas Indonesia yang memanfaatkan kunyit adalah nasi kuning (tapi, sayangnya, akhir-akhir ini disinyalir banyak yang menggunakan zat pewarna buatan untuk sensasi kuning tersebut!). Selain untuk masakan, kunyit terkadang juga digunakan untuk pengobatan tradisional.

Namun, siapa yang menyangka bahwa ternyata kunyit sudah dipatenkan oleh negara Jepang? Aku sendiri baru tahu hal itu setelah menonton Liputan6 Petang edisi 11 Desember 2006. Betapa tidak berdayanya republik ini, berlimpah kekayaan alam & seni budaya tetapi “hak milik”nya dikuasai oleh negara lain. Sebelum kunyit, Jepang sudah mematenkan tempe. Sementara itu batik juga sudah dipatenkan oleh Malaysia. Entah apa lagi kekayaan kita yang akan diaku oleh negara lain sebagai miliknya… (mungkin hal itu juga yang ada dalam benak Bayu Sutiyono sehingga dia geleng-geleng kepala usai membacakan berita tersebut, hehehe…)

Hak paten itu sendiri memiliki konsekuensi yang tidak bisa dianggap enteng. Salah satu yang terpenting adalah dalam hal pemanfaatan. Jadi, dalam kasus si nyit-nyit kuning itu, misalnya kita ingin memproduksi bumbu kunyit bubuk dengan skala masal, kita harus minta izin dulu & membayar royaltinya kepada Jepang. Bah… sepertinya absurd sekali, ya? Namun begitulah pakem yuridisnya, & kalau itu dilanggar, tentu juga ada sanksinya. Hanya saja, sejauh yang kutahu, sampai saat ini aku belum pernah mendengar ada kasus seseorang yang terjerat hukum karena urusan paten hasil bumi.

Aku jadi tidak habis pikir, kok sampai tanaman & hasil bumi saja dipatenkan, sih? Itu kan, sesuatu yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, jadi mustinya semua bebas untuk memanfaatkannya (tentu saja dalam taraf kewajaran & tidak eksploitatif)! Barangkali ada di antara sampéyan yang paham soal paten-mematen ini? Tolong berikan penjelasan kepadaku, biar aku tidak curiga lagi bahwa urusan paten ini UUD (ujung-ujungnya duit) doang… =D





Merindukan Rektor UGM seperti Pak Koes…

13 12 2006

Kasak-kusuk pemilihan rektor UGM periode 4 tahun ke depan sudah mulai memanas, walaupun belum diketahui secara pasti hari-H pemilihannya. Wacana yang paling panas dihembuskan adalah pemilihan rektor secara langsung oleh seluruh warga kampus. Siapa lagi “dalang”nya kalau bukan BEM-KM UGM… =)

Selama ini rektor UGM memang merupakan hasil pilihan orang-orang tertentu, bahkan dalam beberapa kasus ada yang secara sarkastis mengatakannya sebagai “drop-dropan dari pusat”. Sebelum era BHMN, “orang-orang tertentu” tersebut adalah para beliau yang berada di Senat Universitas. Beberapa kandidat yang dianggap layak untuk menjabat sebagai rektor diseleksi, kemudian dilakukan pemungutan suara & hasilnya dilaporkan kepada Menteri Pendidikan. Pejabat yang satu inilah yang memberikan keputusan akhir; jadi seorang kandidat yang pada saat pemilihan oleh Senat memperoleh suara terbanyak tidak secara otomatis terpilih menjadi rektor. Bukan tidak mungkin nama yang akhirnya muncul adalah nama yang sama sekali baru (yang mungkin lebih sesuai dengan selera pemerintah pusat =P). Ya, itu tadi… “drop-dropan dari pusat”. Sebenarnya semua mekanisme pemilihan itu serba tertutup, orang-orang di luar Senat hanya tahu jadi, tapi yang namanya celah ~sesempit apa pun itu~ pasti selalu ada ‘kan? Apalagi kalau sudah menyangkut isu yang tak sedap, hehehe…

Lalu bagaimana dengan pemilihan rektor pada era BHMN? Secara umum tidak jauh berbeda, tapi sepertinya lebih terbuka. Proses perekrutan calon, penyampaian visi & misi calon, semua bisa disaksikan langsung oleh publik. Namun tetap saja yang berhak untuk memilih adalah segelintir orang, yaitu mereka yang berada dalam Majelis Wali Amanat (MWA). MWA juga yang melantik rektor terpilih (mirip dengan pemilihan presiden pada masa Orde Baru & awal reformasi, ya…). Sekilas tidak ada lagi intervensi dari pemerintah yang dapat memunculkan fenomena “drop-dropan dari pusat”, tapi kalau kita cermati komposisi MWA, nah… bukan tidak mungkin hal itu tetap bisa terjadi, karena ternyata Menteri Pendidikan punya hak suara sebesar 35%!

Terlepas dari bagaimana mekanisme pemilihan, sekarang ada pertanyaan yang sepertinya justru paling penting untuk diajukan: siapa yang kira-kira pantas untuk menjabat sebagai rektor UGM pengganti Prof. Sofian Effendi? Satu jawaban yang pasti: dia harus bisa memberikan perhatian yang sama besar kepada seluruh elemen kampus. Perhatian di sini bukan hanya dalam hal finansial, tapi juga (lebih kepada) perhatian secara psikologis. Tanpa bermaksud untuk melakukan pembunuhan karakter atau pencemaran nama baik, hal itulah (perhatian secara psikologis) yang, menurutku, menjadi angka merah dari kepemimpinan Prof. Sofian, & yang paling merasakannya adalah mereka yang bernaung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Boro-boro sidak ke Gelanggang yang jadi markas sebagian besar UKM, sekedar menghadiri undangan acara yang diadakan oleh UKM pun tidak pernah disempatkan. Alasannya, sudah ada Wakil Rektor yang berkaitan langsung dengan hal itu. Heheh… kok absurd sekali ya? Ndak ilmiah blas… Mungkin dalam pandangannya kegiatan UKM cuma kegiatan ekstrakurikuler, yang semata sebagai penyaluran hobi, minat, & bakat serta tidak ada hubungannya dengan konsep research university yang digadang-gadangnya itu.

Bagaimana dengan rektor-rektor sebelum Prof. Sofian? Oh… masih mendingan lah… Prof. Amal, Prof. Soekanto, bahkan Prof. Adnan yang terkesan serius banget itu saja masih mau menyempatkan diri untuk menghadiri undangan dari UKM.

Kembali ke pertanyaan mengenai sosok yang layak menjadi rektor, aku jadi teringat akan satu nama: Prof. Koesnadi Hardjasoemantri. Walaupun aku tidak mengalami secara langsung, tapi kepemimpinannya selama menjabat sebagai rektor UGM begitu tersohor & sampai sekarang masih banyak dikenang. Semua elemen & ranah mendapat perhatian & prioritas yang sama besar, tidak ada yang merasa terabaikan. Boleh jadi, Pak Koes ~demikian sapaan akrabnya~ adalah rektor UGM terbaik & paling populer. Tidak hanya di kalangan mahasiswa, tapi juga sampai menembus masyarakat luar kampus.

Hmmm… kapan ya, UGM kembali punya rektor sekaliber Pak Koes? Apakah ~jika terwujud~ pemilihan rektor secara langsung akan dapat memunculkan sosok yang seperti itu? Atau mungkin itu hanya sekali sepanjang sejarah UGM, ya… =3

Omong-omong, tgl. 9 Desember y.l. Pak Koes ulang tahun ke-80, lho! Selamat, ya, Pak… semoga kesehatan senantiasa tercurahkan kepada Bapak sehingga Bapak tetap dapat terus berkarya, âmîn.





Ironi FFI 2006

7 12 2006

 

Festival Film Indonesia (FFI) kembali digelar. Daftar unggulan dari berbagai kategori telah diumumkan pada tgl. 16 November yang lalu, bahkan pada tgl. 2 Desember kemarin Piala Vidia telah diberikan kepada para pemenang untuk genre film TV. Masih tersisa satu agenda lagi, yaitu pengumuman pemenang Piala Citra yang rencananya akan dihelat pada tgl. 21 Desember.

Agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya (2004 & 2005), FFI tahun ini memunculkan beberapa kejutan (terutama pada genre film bioskop) yang, yah…, bisa dibilang berbau kontroversi bagi para pengamat (profesional maupun amatir) film Indonesia. Kejutan terbesar, mungkin, adalah tidak masuknya film Berbagi Suami (Nia Dinata) dalam daftar unggulan peraih Piala Citra untuk kategori film terbaik. Padahal beberapa hari sebelumnya film tersebut dinobatkan sebagai film terbaik pada Festival Film Internasional di Hawaii! Aku sendiri sudah sempat curiga bakal terjadi kejutan ini, karena sebelumnya pada kategori lain yang juga cukup “bergengsi” yaitu skenario terbaik, Berbagi Suami juga tidak mendapat tempat. Meski demikian Nia Dinata, sang sutradara, tidak terlalu ambil pusing. Barangkali sudah merasa “menang angin” ya, karena filmnya malah jadi yang terbaik di salah satu festival internasional, hehehe…

Film lain yang juga tersingkir dari persaingan memperebutkan Citra adalah Opera Jawa (Garin Nugroho). Walaupun belum pernah melihatnya, tapi paling tidak nama Garin sudah cukup menjadi jaminan bahwa itu bukan film sembarangan. Ironi kembali terjadi karena pada Festival Film Nantes barusan Artika Sari Devi, yang menjadi pemeran utama wanita dalam Opera Jawa, mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik, sementara dalam FFI namanya malah tidak masuk dalam jajaran unggulan aktris terbaik.

Entahlah, mengapa sepertinya para juri FFI tahun ini menerapkan penilaian yang agak sulit dipahami dengan logika mana pun, sehingga Heart & Ekskul pun lebih dipilih untuk bersaing dengan 3 film lainnya (Denias, Ruang, & Mendadak Dangdut) dalam memperebutkan gelar film terbaik thn. 2006. Semoga saja tidak ada niat untuk menjadikan FFI sebagai ajang “pemerataan kesempatan berprestasi” atau “bagi-bagi kue”. Yaaa… siapa tahu ‘kan, juri punya pikiran seperti ini: masak (filmnya) Nia lagi… masak (filmnya) Garin lagi… kasihan yang lain, dong! [hehehe... su’udlan ya...]

Kita tunggu saja tgl. 21 Desember… kalau bukan Denias yang mendapat Citra sebagai film terbaik, lengkaplah sudah ironi FFI 2006! =3





Lumpur Lapindo: Bencana Alam?

3 12 2006

Fokus KOMPAS hari Sabtu, 2 Desember 2006, mengulas masalah lumpur Lapindo yang sudah lebih dari 6 bulan menyembur tapi tak kunjung ada tanda-tanda mereda & malah menjadi-jadi menyusul terjadinya ledakan pipa gas Pertamina yang melintang di dekat kawah lumpur. Satu hal yang membuat cukup miris adalah prediksi yang menyatakan bahwa dalam 5 tahun, jika tidak ditangani secara serius, luberan lumpur dapat mencapai radius sekitar 13,5 km dari pusat semburan. Berdasarkan ilustrasi yang ditampilkan, itu berarti dapat mencapai Bangil yang secara administratif masuk Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Sidoarjo sendiri mungkin bakal tinggal nama karena 80% wilayahnya tenggelam. Wah…

Bagitu banyak gonjang-ganjing yang menyertai perjalanan si lumpur, mulai dari masalah tuntutan ganti rugi yang diajukan oleh warga korban terjangan lumpur, pembentukan Tim Nasional, sampai “status”. Berkaitan dengan masalah yang terakhir disebutkan, ada sebagian pihak yang menyatakan bahwa semburan lumpur di wilayah Porong itu termasuk bencana alam & oleh karenanya meminta pemerintah untuk menangani persoalan tersebut sebagaimana halnya penanganan korban gempa bumi di Bantul atau tsunami di Aceh.

Benarkah demikian?

Seorang pakar geomorfologi lingkungan, Verstappen, pernah mengungkapkan bahwa natural disasters are not so natural. Artinya, ada bencana yang memang benar-benar karena faktor alam; tapi ada juga bencana yang tidak benar-benar alami, atau dengan kata lain ada unsur “campur tangan manusia”. Termasuk golongan pertama adalah ~dan hanya~ bencana kegunungapian (volcanic disasters), bencana seismik (gempa bumi), & tsunami. Tiga serangkai ini bisa dikatakan sudah menjadi suatu keniscayaan karena merupakan bagian dari proses alam, terlebih bagi wilayah seperti Indonesia, & satu-satunya yang dapat dilakukan manusia adalah meminimalkan dampak yang ditimbulkan. Sisanya, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, kebakaran hutan, dsb., termasuk bencana alam yang “not so natural”. Faktor kondisi alam memang menentukan, tetapi tidak 100% & hal itu sebenarnya dapat disiasati. Contoh yang paling mudah untuk diajukan di sini adalah Jakarta. Daerah ini sejatinya ~dalam kacamata geomorfologi~ adalah dataran banjir (flood plain), yang berarti sangat rentan untuk mengalami banjir. Namun itu bukanlah suatu alasan untuk menjadikan banjir yang hadir tiap tahun sebagai suatu kewajaran. Limpasan dari Bogor dapat dikendalikan seandainya kawasan resapan air di Jakarta masih terjaga. Siapa yang dapat menjaganya? Tentu saja: manusia! Jakarta tempo doeloe punya banyak situ (telaga) & cukup “menghutan”. Sekarang situ-situ tersebut sudah (di)kering(kan) & pohon-pohon banyak yang ditebang, berganti dengan beton-beton yang menghalangi peresapan air ke dalam tanah. Pantaslah kalau banjir jadi seperti ketagihan menyambangi Jakarta, bahkan Istana Negara pun tak luput dirambahnya.

Kembali ke soal lumpur Lapindo. Mungkin bisa saja itu digolongkan sebagai bencana alam, tetapi kalau penanganan korbannya mau disamakan dengan penanganan korban gempa atau tsunami, tunggu dulu… ini beda genre, Bung! Walaupun pada dasarnya secara geomorfologis keadaan setempat memang sangat memungkinkan terjadinya semburan lumpur, tapi apa yang terjadi pada 29 Mei 2006 itu adalah murni karena kesalahan teknis. Oleh karena itu sangat beralasan kalau warga setempat yang jadi korban meminta Lapindo sebagai pihak yang paling bertanggung jawab, salah satunya dengan memberikan kompensasi sebesar dua setengah juta rupiah (per jiwa atau per KK, ya? =D). Lalu, bagaimana dengan pemerintah? Tentu tidak bisa lenggang-kangkung begitu saja… Pemerintah turut bertanggung jawab untuk melakukan penanganan korban dengan cara harus terus mendesak pihak Lapindo untuk memenuhi tuntutan korban bencana lumpur. [Ya... kalau istilah “harus terus mendesak blablabla” itu dianggap terlalu kasar, ganti saja dengan “memfasilitasi” atau “menjadi mediator”. Gitu saja kok repot...] Nah… beda halnya dengan, misalnya, bencana tsunami di Pangandaran pada pertengahan Juli yang lalu. Pemerintah (pusat maupun daerah) bisa dituntut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab karena dua hal. Pertama, lambatnya penyampaian informasi peringatan dini tsunami. Kedua, pembiaran kondisi pantai Pangandaran yang terbuka tanpa barikade pemecah ombak & tataruangnya sungguh kacau—riskan. Jadi, dalam kasus ini, pemerintahlah yang harus menanggung semua biaya penanganan dampak bencana. Kalau pemerintah memang merupakan pemerintah yang sadar bencana, mestinya semua itu sudah dialokasikan dalam APBN/APBD.

Heheh… kok topik pembicaraan jadi melebar ya? Berarti sudah waktunya, nih… untuk mengakhiri tulisan ini, hehehe…. Sampéyan sepakat atau berseberangan dengan apa yang sudah kutulis? Atau mungkin malah mau melakukan koreksi? Silakan tinggalkan komentar pada tempat yang telah disediakan… =)

Sebagai penutup, semoga bencana lumpur Lapindo benar-benar memberikan pencerahan & penyadaran bagi kita semua untuk tidak main-main dengan alam. Manusia boleh mengklaim dirinya mampu mengubah lingkungan dengan teknologi yang dikuasainya, tapi jangan lupa… alam pun punya mekanisme untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut & dampaknya ~ujung-ujungnya~ mengenai manusia juga. Itu yang masih belum cukup kita sadari!





Mengasah apresiasi terhadap musik klasik ala ASAH “Indonesian Tour”

3 12 2006

Bagi sebagian orang, musik klasik masih menjadi musik yang “elit”, yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Para penggiat & penggemar musik klasik tak jarang dipandang seperti alien (duh… kasihan banget ya…). Padahal sesungguhnya cuma masalah kebiasaan, kok…

Itulah benang merah yang muncul dalam konser musik klasik ASAH “Indonesian Tour” semalam di Auditorium II Fakultas Kedokteran UGM. Konser yang menampilkan Ary Sutedja (piano) & Asep Hidayat (cello), dua musisi klasik Indonesia dengan reputasi internasional, tersebut setidaknya membuktikan bahwa musik klasik itu sebenarnya sama saja dengan jenis-jenis musik lainnya, asyik & membumi. Jadi, sekali lagi, hanya masalah kebiasaan.

Konser ASAH itu sendiri memang agak berbeda dengan konser-konser musik klasik yang pernah digelar sebelumnya di tempat yang sama. Jika biasanya konser terdiri atas dua babak dengan jeda antarbabak selama 15 menit, maka pada konser ASAH hanya terdiri atas satu sesi penuh sepanjang 1 jam yang kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama penonton sekitar 15 menit & ditutup dengan encore.

Total ada 7 komposisi yang dibawakan oleh Mbak Ary & Kang Asep, baik secara duet maupun solo. Pergelaran dibuka dengan komposisi Ave Maria karya Charles Gounod yang sudah cukup akrab bagi pendengaran, pilihan yang sepertinya disengaja untuk menggiring telinga penonton lebih nyaman lagi dengan komposisi-komposisi berikutnya dari W.A. Mozart, J.S. Brahms, Budi Ngurah (solo cello), Jaya Suprana (solo piano), Maurice Ravel, & Dmitriy Shostakovich. Penonton pun memberikan sambutan yang hangat untuk tiap komposisi yang dimainkan, & tepuk tangan paling meriah diberikan setelah dimainkannya Tembang Alit karya Jaya Suprana. Mungkin karena rangkaian nada-nada pentatoniknya yang begitu indah & akrab untuk telinga orang Indonesia (terutama orang Jawa), ya…

Selanjutnya adalah sesi dialog. Penonton dipersilakan untuk menyampaikan pertanyaan atau sekedar kesan setelah menonton konser tersebut. Eh… ada “prolog”nya ternyata, penampilan Rido (penyiar radio Eltira, itu… radio di Jogja yang punya program 50 jam musik klasik dalam seminggu siarannya) yang menyanyikan sebuah komposisi dari Schubert diiringi oleh Mbak Ary. Heheh… rada show-off yach… tapi boleh juga, tuh! =P Nggak kalah dengan Mas Wishnu, pelatih paduan suara UGM yang juga juara Bintang Radio kategori seriosa… =) Kembali ke acara dialog, salah seorang penonton yang mengaku sebagai siswa SMA Stella Duce 1 mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama dia menonton konser musik klasik & awalnya dia sempat apriori terhadap dirinya sendiri. Maksudnya, dia pikir dia bakal ketiduran di tengah-tengah konser karena bosan. Namun ternyata belum sempat dia mengantuk, konser sudah usai, & dia merasa terkesan. Ternyata asyik juga musik klasik itu (hee… baru tahu dia! =P)…

Nah… berarti misi ASAH untuk “membumikan” musik klasik cukup berhasil, setidaknya satu orang ~remaja pula!~ sudah jadi “korban”nya, hehehe… Bukan tidak mungkin dalam rangkaian tur selanjutnya akan lebih banyak lagi “korban” berjatuhan (hmm… maaf, Mbak, Kang, mungkin istilah “korban” dirasa terlalu kasar, ya…).

O ya, ruang konser penuh banget, lho! Penontonnya juga beragam, & tak sedikit yang tampilannya bersahaja, nyantai, bahkan cenderung proletar, hehehe… Ini cukup menjadi bukti lain bahwa musik klasik bukanlah musik “elit” seperti yang selama ini sudah terlanjur menjadi stigma. (eits… sebentar, sepertinya yang berdiri di pojok belakang dekat pintu masuk itu Mas Budi Ngurah, ya… =D)

Kalau ada yang mengeluhkan (konser) musik klasik sebagai (konser) musik yang penuh aturan, itu wajar lah… Bagaimana pun, memainkan musik klasik perlu konsentrasi tinggi (kalau mainnya salah atau kepeleset, kan juga malu-maluin to…), demikian pula mendengarkannya. Sekali lagi: ini masalah kebiasaan. Kalau kita mencoba untuk cukup rajin & membiasakan diri menonton konser musik klasik, maka lama-kelamaan kita tidak akan mempermasalahkan lagi aturan “mematikan ponsel selama konser”, “tepuk tangan hanya di akhir komposisi”, atau “mengambil gambar tanpa lampu kilat”. Termasuk juga untuk sedapat mungkin tidak berbicara selama sebuah komposisi dimainkan… Hal yang terakhir inilah yang sempat membuatku tidak bisa sepenuhnya menikmati konser ASAH. Pasalnya, dua orang penonton yang duduk persis di belakangku nyaris tidak pernah berhenti ngobrol sepanjang konser! Adaaa… saja yang jadi bahan pembicaraan. Memang bisik-bisik sih, tapi cukup mengganggu, & bagiku itu menjadi pertanda bahwa mereka kurang apresiatif. Kalau saja memungkinkan, mereka pasti sudah kulempari dengan sandalku yang masih lumayan tebal solnya itu… =P