Sejak SMP aku sudah terbiasa ngelayap dengan sepeda, walaupun pada saat itu untuk urusan pp ke & dari sekolah aku masih dilanggankan becak oleh orang tuaku. Ya… taruhlah untuk kelas Olah Raga yang biasa dilaksanakan jam setengah enam sampai tujuh pagi di Alun-alun atau Stadion Kota Pasuruan, juga untuk urusan (latihan) Pramuka. Atau kalau pas siang-siang kepingin main ke Krampyangan atau Tembokrejo yang pada waktu itu masih didominasi sawah (gila nggak sih… bukannya tidur siang tapi malah pit-pitan 2 km dari rumah! Pantas kalau kulitku jadi melegam begitu, hehehe…). Nah… untuk yang terakhir ini, biasanya aku nyulik sepeda jengki milik tukang kebun harian keluargaku. Pasalnya, sepeda mini Five Rams punyaku sendiri terlalu kecil untuk diajak jalan jauh. Kasihan ‘kan… =D
Beranjak SMA, aku sudah boleh full bersepeda ke mana pun. Ibu & Bapak rupanya sudah rela kalau bungsunya ini tiap hari bergaul dengan bis-bis antarkota & truk-truk besar yang selalu dijumpai dalam perjalanan rumah-sekolah pp. =) Tungganganku pun diganti dengan yang lebih besar: sepeda jengki Phoenix warna hitam. Untuk ukuran 15 tahun yang lalu, terlebih di kota kecil, sepeda jenis itu sudah tergolong bergengsi, lho… Petualanganku bersama sepeda pun makin lebar jangkauannya. Paling jauh adalah ketika aku & seorang sahabatku bersepeda tanpa tujuan jelas, mblusuk ke perkampungan, & tahu-tahu ketika sudah ketemu jalan besar lagi ternyata kami sudah berada di daerah Rejoso yang jauhnya sekitar 12 km dari pusat kota! (Nen… hope you to always remember that moment!)
Masuk kuliah & mulai tinggal di Jogja, sepeda tetap menjadi pilihan moda transportasiku. Menyesuaikan dengan topografi wilayah jelajah yang rata-rata naik-turun, sepeda gunung Federal (yang pada saat itu sedang booming) warna ungu pun menggantikan tugas si Phoenix hitam menemaniku bepergian. Namun, baru hari pertama kuliah, si Fedy ungu yang waktu itu kuparkir di bawah pohon dekat selasar Fisipol sudah digondol maling. Walah… padahal sudah dikunci, lho! Ya sudah, terpaksa (minta di)beli(kan) sepeda baru lagi. Pilihan tetap sepeda gunung Federal, warna biru, harga lebih murah. Lumayan, bisa lebih lama bertahan, tetapi ternyata umurnya pun tak panjang. Si Fedy biru itu raib ketika diparkir di halaman belakang Gelanggang setelah dipinjam seorang teman. Huaaa…
Berhubung butuh banget, aku pun segera mencari sepeda pengganti. Tetap Fedy biru, tapi harganya lebih murah lagi daripada yang generasi pertama. Herannya, si maling tak juga kapok & walhasil si Fedy biru jilid dua ikut-ikutan kakak-kakaknya menghilang. Kejadian kehilangan sepeda untuk yang ketiga kalinya ini lebih “parah” lagi, karena TKP-nya di parkiran kampus jurusanku, jam pertama kuliah yang ternyata kosong, sudah kukunci & kuparkir di tempat yang sangat bisa kuciri, & saat itu sudah ada orang di kantin jurusan yang letaknya persis bersebelahan dengan areal parkir. Heheh… dasar belum jodoh ‘kali ya… Total dalam rentang waktu sekitar setahun aku sudah tiga kali kemalingan sepeda. Really bad track-record! =P
Satu semester “dihukum” jalan kaki & naik transportasi publik Kota Jogja yang kacau untuk bepergian, akhirnya pada 18 Juni 1996 aku diizinkan punya sepeda lagi. Sepeda gunung Feroza warna biru & dengan harga yang lebih murah lagi daripada sepeda ketiga menjadi pilihan. Harap-harap cemas juga sih, kira-kira bisa awet berapa lama yang ini, hehehe… Alhamdulillâh, si Feroza benar-benar setia menemaniku & sekarang sudah lebih dari 10 tahun dia menjadi saksi dari kegilaanku ngelayap ;-P. Entah sudah berapa kilometer ditempuhnya, berapa banyak tempat yang disambanginya, juga berapa buah ban, kabel rem, kanvas rem, & rantai yang dihabiskannya; yang jelas dia sudah seperti separuh nyawaku (halah…).
Kalau mau dibikin “riwayat hidup” singkatnya, mungkin antara lain seperti ini: pernah nyasar sampai ke Seyegan (sekitar KM 15 Jl. Magelang!) waktu usianya belum lagi sebulan, menempuh Karanggayam-Madukismo pp demi tugas KP, sekitar setahun berute Nogotirto-UGM pp, & pernah keliling Babarsari-Ringroad Timur-Ringroad Selatan-Ringroad Barat (perempatan Jl. Wates)-Kota-Karanggayam persis sebulan setelah gempa 5,9 SR. Édian tênan to… =D Tentu saja tidak boleh dilupakan jasanya dalam turut serta mengantarkanku sampai lulus kuliah. Lalu, setahun belakangan ini, si Feroza juga mulai merambah rute Karanggayam-Ringroad Utara-Tajem-Sidokarto (Kalasan).
Hmmm… sebenarnya mulai kasihan juga, sih, dengan dia. Usianya kian tua & badannya makin sering sakit-sakitan. Apalagi kondisi jalan di Jogja yang ibarat surganya polisi tidur (seorang temanku malah bilang polisi hamil, hehehe…), bikin body-nya tambah cepat rapuh karena sering terguncang. Belum lagi gearshift-nya sudah mati total & terkunci di gigi terbesar, yang memaksanya untuk kerja ekstra kalau ada tanjakan.
Jadi, aku sudah mulai berpikiran untuk memensiunkan si Feroza, begitulah… Calon penggantinya pun sudah terbayang: city bike Sierra cap Polygon warna biru.
Wuihhh… pertama kali lihat Sierra itu aku langsung jatuh cinta! Spesifikasinya pas banget dengan kebutuhanku. Tapi, sampai detik ini, si Sierra masih tetap jadi bayangan alias impian saja. Duitnya belum ada, sih…
Mau minta ke ortu, kan, sudah nggak pantes lagi. Barangkali aku masih harus menunggu sampai aku dapat tiga bulan gaji pertamaku, ya… itu pun dengan syarat gaji minimal 1 juta & harga si Sierra tidak mengalami kenaikan, hehehe…
Percaya tidak, saking kepinginnya untuk segera memensiunkan si Feroza, untuk ulang tahunku beberapa bulan yang lalu aku sempat make a wish seperti ini: semoga ada yang berbaik hati ngasih aku kado city bike atau sepeda listrik! Hahaha… & ternyata harapan tinggal harapan; boro-boro sepeda, kado-apa-pun saja aku nggak dapat, kok… Tapi yang namanya berharap, kan, nggak dilarang undang-undang mana pun, iya toh… =P
Komentar Terakhir